Aku memohon untuk mendapatkan sesuatu; bukan sekedar sebutir kembang gula atau sehelai kain sutra, namun satu yang sangat aku inginkan dan aku butuhkan. Bersaksilah seorang terdekat akan doaku, dan dengan sedenting nada peringatan, dia berkata,“… tapi berhati-hatilah dengan segala yang kamu minta kepadaNya, karena untuk setiap doa yang dikabulkan, ada konsekuensi serta cobaan yang mengiringinya, dan sekiranya lah, kamu siap untuk menghadapinya.”
Aku yang saat itu sebenarnya tidaklah muda, namun belum dewasa, menganggap ucapannya semilir angin lalu karena aku meyakini, walau sebenarnya tidak memahami, doa yang aku panjatkan. Tuhan Maha Penyayang dan dikabulkanNyalah permohonanku. Saat itu serasa mengapung di pantai kebahagiaan dan berbasuhkan hangatnya cahaya matahari. Ah, tidak kusadari, gelombang ombak besar akan menghantamku.
Benar, ucapan sang sahabat yang terdengar tersamar oleh keangkuhanku, perlahan-lahan menjadi kenyataan. Hal-hal yang dahulu kasat mata dan serasa tidak penting, menjadi begitu berharga dan tidak bisa aku acuhkan. Ingin aku menjadi seseorang yang mampu menata hidupku, dengan dewasa menjalani konsekuensi yang berbuah dari keputusanku. Aku ingin bisa tulus tersenyum kepada mereka, dan mereka tersenyum kepadaku, diriku sebagaimana aku apa adanya.
Untuk itulah aku perlu melangkahkan kakiku, walau aku harus tertatih-tatih, tertahan oleh sebongkah keraguan dan ketakutan akan menjadi seseorang yang berbeda dengan yang mereka kehendaki. Biarlah, mungkin itu akan menjadi salah satu konsekuensi yang terlahir oleh keputusanku, aku hanya bisa berdoa, dan tidak sekedar berdoa, bahwa semua yang akan terjadi adalah untuk yang terbaik.
Satu yang kusadari, walau waktu telah mengambil sebagian usia dari hidupku dan mengukir satu lagi kerut di wajahku, ada satu hal yang tidak akan pernah berubah. Aku tetaplah manusia yang angkuh, akulah karang yang tetap keras berdiri. Tidak ada dalam dirinya pilihan untuk melunak, hanyalah keras atau hancur tanpa bekas. Itulah aku. Dan kali ini, keangkuhanku membuatku mengambil jalan yang tidak biasa. Saat di depanku kutemui persimpangan: satu menuju hutan belantara berduri dan satu padang hijau ilalang, kupilih jalan pertama, walau jantung berdetak kencang dan keringat mengucur deras. Ya, kupilih jalan itu, karena suara hati terdalam mengatakan banyak hal yang tersembunyi di dalam hutan yang jarang terjamah itu. Sesuatu yang terkubur, yang harus aku gali dengan tangan telanjangku sendiri…
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan tergores duri-duri tajam, tenggelam dalam kubungan lumpur atau menghilang di tengah kepulan kabut dan selamanya kehilangan jalanku di dalam hutan tersebut. Hanya Tuhan yang tahu. Aku hanya bisa berharap, aku akan melewati satu perjalananku dan kutemui cahaya di ujung jalan yang telah aku pilih. Biarlah aku berhiaskan luka dan bermantelkan lumpur, dan mungkin akan dicemooh aku oleh mereka atas ketidakindahanku, asalkan aku genggam hal yang berharga bagiku, yang membuatku aku, dan membuat hidupku kini dan nanti tidak sia-sia.
Mengambil cuplikan puisi Robert Frost yang aku kagumi:
“…two roads diverged in a wood, and I --
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.”