Eli, Eli, lamah azavtani?
Sepanjang sejarahku mempelajari bahasa Ibrani (lebay pol), satu kalimat itu yang benar-benar melekat di pikiranku. Cuplikan dari Tanach, atau Perjanjian Lama dalam bahasa Indonesia, yang memiliki arti, "Tuhanku, Tuhanku, kenapa Engkau meninggalkanku?".
Pokok dari tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memiliki unsur agama sama sekali. Aku hanya berpikir, bahwa seringkali, aku menyalahkan orang lain ketika aku merasa sendirian. Lamah azavta? Adalah kata yang sering aku lontarkan dalam hati. Kenapa kamu pergi [meninggalkanku]?
Hmmm, padahal sih aku tidak pernah ditinggalkan. Semua hanya permainan pikiran. Pikiran yang hanya bisa melumpuhkan. Intinya sih, aku perlu berpikiran yang lebih positif. Walaupun di detik ini seseorang sedang tidak ada, tidak memberi kabar, bukan berarti dia telah pergi selamanya. Bukanlah perpisahan, jika kita belum terhapus dari hati seseorang.
Begitulah. Tidak ada yang pernah meninggalkanku. Yang terjadi hanyalah jarak yang dibentangkan oleh waktu. Dan akan tiba saatnya, jarak itu menghilang. Dan akan kembali indah semua pada waktunya.
Monday, 11 October 2010
Sunday, 10 October 2010
++ ... ++
Tidak perlu mencoba melampaui waktu. Itu yang akhir-akhir ini aku ucapkan dalam hati. Ketika perasaan ini tiba tanpa dinyana-nyana. Yang terkadang membuat diri tersenyum sendiri, atau menimbulkan resah di hati. Aneh. Apakah yang telah memantikkan kembali, api yang dahulu pernah padam?
Ah biarlah. Cukuplah aku berjalan bersama sang waktu. Cukuplah sesekali aku menyapanya dengan, "Apa kabarmu?". Dan aku tidak akan mengharapkan apa-apa, kecuali dirinya menjawab, "Aku baik-baik saja." Saat ini, itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Dan untuk sekarang dan masa mendatang, aku akan berusaha menjadi, yang cukup untuk membuat dirinya bahagia.
Ah biarlah. Cukuplah aku berjalan bersama sang waktu. Cukuplah sesekali aku menyapanya dengan, "Apa kabarmu?". Dan aku tidak akan mengharapkan apa-apa, kecuali dirinya menjawab, "Aku baik-baik saja." Saat ini, itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Dan untuk sekarang dan masa mendatang, aku akan berusaha menjadi, yang cukup untuk membuat dirinya bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)