Monday, 19 January 2009

++ Kumpulan Catatan-Catatan di Hari-Hari Akhir ++

Beberapa hari terakhir ini benar-benar merupakan paduan antara kebahagiaan dan kesenduan. Banyak hal-hal kecil yang terjadi; hal-hal yang memiliki makna yang sangat besar bagiku.

14 Januari

Aku terjebak dalam suatu situasi. Jika orang lain yang mengalaminya, mungkin mereka akan merasa sedih. Tetapi secara pribadi, aku merasa senang hal ini terjadi, karena aku bisa
mengenal seseorang secara lebih dalam dan momen-momen itu sangat berharga bagiku.

Adapula waktu ketika Tika mengantarkan aku pulang. Pertama-tama ban sepeda motor Tika bocor dan kami menghabiskan setengah jam menunggu ban itu ditambal. Dalam suasana hujan rintik-rintik, aku dan Tika mengobrol. Sepele terdengarnya, tetapi entah mengapa malam itu sangat mengesankan bagiku. Mungkin karena sebelumnya kami berdua belum pernah duduk dan berbicara panjang lebar mengenai hal-hal yang tidak penting (tetapi tetap hal-hal yang sangat menarik). Ketika ban sudah ditambal, kami pulang dan tiba-tiba hujan mengguyur deras. Aku kedinginan, kebasahan dan mataku tertusuk-tusuk air hujan, tetapi dalam momen itu aku jadi terbawa nostalgia. Nostalgia ketika beberapa bulan yang lalu, aku dan Tika juga berhujan-hujanan naik sepeda motor setelah berbelanja untuk sebuah acara di rumahku (buka puasa bersama).

Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang dengan manis menungguku. Dari seorang sahabat yang baru beberapa hari lalu aku mengucapkan selamat tinggal. Aku buka bingkisan itu dan berjuta rasa memenuhi dadaku. Aku bahagia, bahagia, bahagia... Aku mendapatkan sesuatu yang mengingatkanku akan masa-masa indah yang telah aku alami di sini. Jadi malam itu aku menjadi seseorang yang sentimentil, tersenyum-senyum sendiri. Kebahagiaan ini tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Tetapi di lain sisi, kebahagiaan ini juga membawa kesedihan yang menusuk hati. Mungkin karena aku baru menyadari betapa berharganya orang-orang di sekelilingku dan masa-masa yang telah aku lalui bersama mereka. Selalu, hal ini selalu terjadi ketika semuanya hampir terlambat. Jika saja aku menyadarinya lebih awal, aku pasti akan melakukan sesuatu yang lebih untuk mereka; sesuatu untuk menunjukkan betapa berharganya mereka bagiku. Semoga saja, aku bisa menggunakan rentang waktu yang ada sebaik mungkin. Bagiku dan juga bagi orang-orang yang pentingku bagiku.

15 Januari

Aku masih terbawa suasana bahagia dan terharu-biru dari malam sebelumnya. Seketika aku datang ke ruang Inculs, ruang penuh kenangan itu lagi sepi. Beberapa waktu kemudian aku bertemu dengan Tika lagi dan menyempatkan untuk mengobrol dari hati ke hati. Ternyata pemikiran dan perasaan kami sama. Aku tidak pernah menyangka itu.

Selama ruang Inculs tercinta buka, tidak ada momen yang terlalu signifikan sebenarnya. Aku hanya terduduk dan memikirkan hal-hal kecil. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku datang, tapi mungkin aku hanya kesepian aja dan selama ini, ruang Inculs dan orang-orang yang ada selalu berhasil menjadi pelipur laraku ketika aku kesepian. Kemudian Bondan datang, dia mau ujian bahasa Jepang. Yah kemudian ujung-ujungnya, kami berdua memutuskan untuk mampir ke hotel tempat ibunya menginap setelah ujian Bondan selesai dan pergi ke Mirota Batik untuk membelikan Adam cinderamata yang semoga saja bisa mengingatkan dia tentang kenangan yang dia dapatkan selama dia ada di Jogja.

Kami akhirnya ke Mirota batik, ditemani Dama dan Vando. Sebenarnya sih kami ke Mirota Batik tanpa tahu apa yang semestinya kami belikan untuk si Adam. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa hiasan rumah agar Adam bisa mulai menghias rumah barunya di Jakarta. Kami membeli hiasan berbentuk gamelan, dengan harapan dia mengingat waktu-waktu yang dia lalui di kelas gamelan bersama kami. Kami juga membeli patung kayu kecil yang berbetuk Bima - entah mengapa aku milih tokoh Bima, tetapi lebih baik daripada Dewi Shinta.

Kemudian sekitar jam 5 kami selesai belanja dan harus bersiap-siap untuk ketemu Adam jam 7. Saat itu, aku sempat membuat Bondan jengkel sehingga dia sampai marah-marah. Masalahnya : yang bakal ketemu Adam ada 4 orang dan pastinya, perlu 2 motor untuk pergi ke sana.

Sebenarnya di rumahku ada motor, tetapi motor tersebut semi-automatic dan aku hanya bisa mengendarai motor Vario, alias motornya Bondan. Aku menyarankan, lebih tepatnya setengah memaksa, untuk bertukar motor. Rencananya, Bondan mengantarkan aku pulang dengan motor Varionya dan dengan motor semi-automaticku, dia pulang ke kosnya. Aku sendiri akan mengendarai motor Vario Bondan untuk menjemput Vando. Membingungkan? Memang. Bondan setengah jengkel, karena dia mengira motor yang ada di rumahku itu motor Nugi yang sering terhenti di tengah jalan tanpa alasan. Jelas saja Bondan takut untuk mengendarai makhluk ajaib itu. Tapi sampai di rumahku, Bondan tidak jadi marah karena motor yang ada bukan motor Nugi dan tidak seburuk yang dia kira. Akhirnya, dia meninggalkan motornya di rumahku dan segera pulang ke kosnya.

Setelah siap-siap, aku meninggalkan rumah dengan berbekal: masker wajah dan SIM hasil pinjaman dari sepupuku. Puji Tuhan Yang Maha Esa (hahaha), aku tidak mengalami kecelakaan dan sampai di kos Vando dengan selamat, walaupun sempat tersesat sehingga terlambat. Kemudian aku, Bondan dan Vando menjemput Isa dan berangkat ke Dixie.

Di sana, kami akhirnya bertemu dengan Adam yang terlambat karena dia tertahan oleh teman-temannya yang mengajak dia makan malam. Jadi, dia datang di Dixie dengan perut yang kenyang. Tetapi, tetap saja dia memesan makanan utama dan hidangan penutup. Di Dixie ada beberapa makanan yang menarik, terutama sup kepiting yang Vando pesan, yang dihidangkan di dalam roti yang berbentuk kelapa. Di sana, diet seorang Miss Jogja pun hancur berkeping-keping karena dia memesan kebanyakan. Tidak apa-apalah, sekali ini saja.

Aku, Adam, Bondan, Vando dan Isa menghabiskan malam itu dengan mengobrol dan tentunya, makan. Senang rasanya bisa mengobrol panjang lebar dengan Adam setelah sekian lama tidak berkumpul bersama; tetapi aku juga berpikir: apa yang telah terjadi selama 6 bulan ini? Mengapa kita jarang berkumpul seperti ini? Hanya diri masing-masing yang tahu.
Setelah makan banyak hidangan, para lelaki terlihat sangat capai dan mengantuk. Dengan malasnya mereka tidur-tiduran bersama bantal dan guling yang memang sudah disediakan oleh Dixie. Setelah kira-kira 3 jam berada di Dixie, akhirnya kami memutuskan pulang. Aku kemudian memutuskan untuk membonceng salah satu dari lelaki yang ada - dan hanya Vando yang bersedia. Dia kelihatannya sudah pasrah dengan nasibnya. Tetapi kami sampai di kos Vando dengan selamat, tanpa ada cacat sedikitpun.

Rencana awal, setelah mengantarkan Isa ke kosnya, aku dan Bondan akan langsung menuju rumahku dan menukar kembali motor kami. Setelah mengisi bensin tentunya. Isa mengusulkan pom bensin yang berada di Jakal, dan pom bensin itulah yang aku dan Bondan tuju. Tapi berhubung aku buta arah, akhirnya aku terpisah dari Bondan dan melewati perempatan Ring Road Utara. Aku yang bingung menghubungi Bondan agar menjemput aku. Duh, tersesat dua kali dalam jangka waktu 4 jam bukanlah hal yang lucu. Sebenarnya dalam perjalanan dari kos Isa ke pom bensin, aku sempat terjerembab di semak-semak karena aku tidak hati-hati ketika memutar arah. Bondan tidak tahu, dan dia pasti akan sebal kalau tahu aku hampir mencelakai Vario sang kekasihnya.

Bondan datang, kami semestinya pulang. Tetapi aku masih merasa malas untuk pulang, karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling Jogja dan dengan senyumnya yang menyesatkan, Bondan mengajak aku untuk mengebut di jalur khusus kendaraan beroda empat. Dengan pengalaman menyetir motorku yang terbatas, tentu saja aku tertinggal jauh dan kehilangan jejaknya. Selama 5 menit aku mengendarai sepeda motor tanpa arah dan kelihatannya pengendara mobil merasa jengkel karena aku menginvasi wilayah mereka. Dengan wajah bersalah aku meminta maaf, walaupun aku tahu mereka tidak bakal mendengarnya. Aku berganti jalur ke jalur sepeda motor, di depan kantor polisi! Kelihatannya ada 2 polisi yang melihatku di jalur yang salah dan yang ada di pikiranku saat itu adalah 'ngebut', karena aku tidak ingin tertangkap dan ditilang. Jadi malam itu aku melanggar tiga peraturan lalu lintas: mengendarai motor tanpa SIM, melanggar lampu merah dan berada di jalur yang salah.
Ternyata waktu itu aku bukannya kehilangan jejak si Bondan, tetapi mendahului dia di lampu merah hahaha. Setelah bertemu Bondan lagi di sekitar JIH, kami melanjutkan aksi ngebut-ngebutan kami. Mungkin waktu itu, kecepatan sepeda motorku mencapai 90km/jam. Benar-benar sebuah rekor bagiku. Sekitar satu jam keliling Jogja tanpa arah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Benar-benar hari yang menyenangkan. Seandainya saja, aku dari dulu bisa melakukan hal-hal seperti ini...

Januari 16

Seperti biasa aku memulai hariku dengan mengunjungi ruang Inculs tercinta. Ketika aku datang, belum ada siapa-siapa. Untunglah sambungan internet berjalan dengan baik dan aku bisa berinternet ria di sana. Rencana hari ini adalah berkaraoke di Happy Puppy bersama tutor-tutor Inculs dan beberapa mahasiswa Monash. Karaokenya sangat menyenangkan, walaupun yang ada di sana tidak sebanyak biasanya (Faizal, Bondan, Vando, Dama, di mana kalian?!). Kami memesan lagu-lagu dari jaman kami masih naif, lugu dan tidak berdosa (memangnya pernah? Apalagi Bono) seperti Bukan Pujangga-nya Base Jam dan tentunya, lagu kebangsaan Taufik yaitu Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Beberapa lagu yang dinyanyikan di Happy Puppy membuatku terbawa suasana yang sendu, seperti lagu Yogyakarta yang dibawakan oleh Katon Bagaskara. Aku yang akhir-akhir ini sering merasa sentimentil jadi berpikir, apa yang akan aku rasakan satu, dua tahun mendatang jika aku mendengar lagu ini kembali? Ah entahlah, lebih baik aku menikmati masa-masa yang ada.

Setelah sesi karaoke berakhir, tentu saja ada satu hal yang wajib dilakukan: sesi foto. Aku heran, kenapa ya semuanya terasa antusias :p? Kemudian aku diantar pulang oleh Fickry dengan sepeda motornya. Di tengah jalan, kami mengalami kecelakaan kecil. Sepeda motor yang melaju di depan kami tiba-tiba berhenti sehingga Fickry tidak bisa menghentikan sepeda motornya tepat waktu. Alhasil, terjadi tabrakan dan kami berdua jatuh ke tepi jalan. Tidak ada yang terluka, hanya saja si Fickry terlihat sangat syok dan dia terduduk di pinggir jalan selama beberapa menit untuk menenangkan diri. Dia mengecek sepeda motornya, ada beberapa goresan di bagian depan :(. Setelah beberapa saat, kami meneruskan perjalanan kami yang tertunda. Sebenarnya, entah kenapa, aku mengetahui kecelakaan kecil ini akan terjadi beberapa detik sebelumnya. Jadi dalam rentang waktu yang singkat itu, aku berpikir: 'Sebentar lagi dua sepeda motor ini akan saling bertabrakan. Aku akan jatuh dan aku sedang tidak memakai jaket. Pasti akan luka-luka. Bagian tubuh yang mana yang akan aku korbankan: bahuku atau telapak tanganku'. Aku memilih untuk mendarat/jatuh di atas telapak tanganku. Ajaibnya, walau aku tersungkur dan telapak tanganku bergesekan dengan aspal, aku tidak mendapatkan goresan apa-apa. Aneh memang pemikiranku waktu itu haha.

Begitulah catatan hari ini, aku mengalami kecelakaan lalu lintas yang pertama. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ditulis hahaha. Walaupun aku mungkin tidak akan berkata demikian seumpama aku mendapatkan luka yang parah.

January 17

Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi hari itu. Seingatku, aku bersama teman-teman tercinta mengantarkan Adam ke bandara, dia akan pergi ke Jakarta. Sebenarnya, waktu itu aku merasa sebal karena aku janji akan datang ke bandara jam 4, tetapi berhubung Indonesia menggunakan sistem jam karet, aku baru sampai jam 4.30. Tetapi setibanya di bandara, aku merasa lega karena Adam belum pergi. Selidik punya selidik, ternyata keberangkatan pesawatnya ditunda 1 jam. Jadi acara kebut-kebutan di jalan itu sia-sia haha.

Setelah berbincang-bincang dengan Adam dan beberapa teman lainnya, tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Adam. Saat itu aku merasa aneh, satu persatu teman-temanku pergi meninggalkan Indonesia. Aku merasa, waktuku semakin dekat. Tetapi aku mencoba berlari dari kenyataan itu dan selalu memberitahu diri bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.

Sepulangnya dari bandara, teman-teman berencana untuk menginap untuk di Kaliurang. Sebelum ke sana, aku mampir dulu ke rumah Tika karena dia perlu pamit ke orangtuanya. Mas Kiki dan Mbak Sinta juga ikut, karena mereka mau mengisi buku kenangan untuk Bondan yang sebentar lagi juga pergi. Rencanya, kami berangkat ke Kaliurang jam 7, tetapi tentu saja jam karet selalu ada. Alasannya, Tika harus mengantarkan Jack pulang ke kostnya, jadi aku harus menunggu dia dulu. Kedua, Bapak Tika ternyata suka berbicara kesana-kemari dengan tamu-tamu yang mengunjungi rumah beliau. Alhasil, Mas Kiki dan Mbak Tika tertahan dan tidak bisa mengisi buku kenangan Bondan dengan cepat.

Aku dan Tika berangkat sekitar jam 9 dan sampai di Kaliurang jam 9.45 . Tapi di sana, kami baru sadar: villa yang disewa itu villa yang pernah digunakan untuk pesta perpisahan Dama dan 1) Tika tidak pernah ke sana; 2) Aku buta arah sehingga tidak tahu villanya di mana. Kami berdua akhirnya tersesat. Kami mencoba nge-SMS Mita dan Bondan, tetapi tidak ada balasan. Kami memutuskan untuk menunggu selama 1 jam dan kami menghabiskan malam minggu kami berdua di Kaliurang sambil makan wedang ronde. Benar-benar malam Minggu yang sendu T.T
Jam 11an kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena malam sudah sangat dingin dan kami berdua sangat mengantuk. Dalam perjalanan pulang, aku hampir tertidur beberapa kali. Tika harus memanggil-manggil namaku selama perjalanan karena aku hampir jatuh dari sepeda motor karena terbuai alam tidur. Tika memutuskan untuk mampir ke warnet biar aku bisa tidur di sana selama satu jam agar aku tidak terlalu mengantuk selama perjalanan pulang. Yah, selama Tika bermain internet, aku terlelap di warnet selama satu jam. Setelah tidur, aku tidak terlalu mengantuk dan 'aman' untuk dibonceng Tika pulang . Benar-benar hari yang aneh.

Januari 18

Setelah Adam di hari sebelumnya, hari ini aku mengucapkan selamat tinggal kepada housemate-ku, Stephanie. Tidak terasa aku sudah tinggal bersama dia selama satu tahun, melewati masa-masa yang sedih dan bahagia bersama. Pada awalnya, aku berpikir bahwa aku tidak akan merasa sedih karena aku tidak ikut mengantarkan dia ke bandara. Tetapi entah kenapa, ketika Stephanie memelukku [beberapa kali] dan mengucapkan selamat tinggal, aku merasa sangat sedih. Ketika dia meninggalkan rumah dengan taksi, aku menitikkan air mata. Rumah yang aku tinggali serasa kosong. Stephanie telah pergi. Nugi berada di Bandung. Aku sendiri. Mungkin yang aku perlukan sekarang adalah lagu Melayu yang mendayu-dayu hahahaha.

Tapi untunglah hari ini aku ada kegiatan sehingga aku tidak merasa terlalu tertekan. Tika dan aku berencana membuat beberapa kejutan untuk si Bondan. Berhubung di rumahku ada beberapa bahan makanan yang tidak pernah terpakai, akhirnya kami memutuskan untuk membuat brownies dan pudding buat Bondan. Dengan berbekal pengetahuan yang minim dan resep dari majalah Femina, kami memulai eksperimen memasak brownies dan pudding. Sebenarnya memasak brownies tidak terlalu sulit, tinggal memasukkan bahan ini dan itu. Kami hanya berdoa brownies kukus itu tidak menjadi 'roti bantat' karena kata Tika, sebagian besar usaha dia dan mamanya membuat kue-kue yang berbau kukus, akan menjadi 'roti bantat'. Untunglah hasilnya sukses (hehehe lagi promosi nih) dan layak disajikan. Setelah dua jam, memasak brownies dan pudding, dan mencuci piring yang kotor, kami berangkat ke Saphir Hotel untuk mengantarkan brownies dan pudding tersebut.

Sesampainya di Saphir (sekitar jam 8.30), Bondan dan kawan-kawan tidak ada di tempat. Akhirnya Tika dan aku menunngu beberapa saat sampai mereka datang. Mereka sampai di hotel jam 9.00, dan Bondan terkejut sekali melihat kami datang ala Room Service, mengantarkan pudding, dan brownies yang masih hangat. Katanya puddingnya enak, tetapi browniesnya lebih enak, sehingga ketika makan puddingnya lagi, rasa pudding tersebut menjadi kurang enak. Nah lho. Heru dan Vando datang beberapa saat kemudian. Vando senang sekali melihat pudding duduk manis di atas meja hotel. Tapi sayangnya, tidak ada piring dan sendok buat dia hahahaha.

Tika dan aku tidak bisa berlama-lama di Saphir Hotel, walaupun sebenarnya kami ingin bisa ngobrol-ngobrol dengan Bondan lebih lama karena kami sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Tidak seperti dulu ketika kami semua selalu pergi bersama-sama. Tapi setidaknya kejutan makanan kami membuat dia senang. Kapan-kapan masak brownies lagi, ah. Tapi siapa ya, yang mau jadi kelinci percobaan?

Januari 19

Seperti biasa, aku berada di ruang Inculs untuk meminta beberapa teman untuk mengisi buku kenangan untuk Bondan. Selama menunggu beberapa orang yang bisa dijadikan mangsa, aku nongkrong bersama beberapa tutor: Isa, Taufik, Anjas dan Hamzah. Di tengah-tengah pembicaraan kami, segerombolan orang Korea masuk ke ruang Inculs. Dengan memasang tampang ramah, kami menyapa mereka. Kami mengira mereka adalah mahasiswa Inculs yang baru, tetapi ternyata mereka sekelompok sukarelawan yang bekerja di Bantul dan mereka ingin jalan-jalan, dan UGM adalah tujuan wisata mereka. Ketika berbincang-bincang [dalam Bahasa Inggris], salah seorang perempuan Korea menyelutuk dan bicara, sambil memandang ke arah Isa, "You're handsome". Tutor-tutor yang lain, entah tertusuk hati mereka apa tidak, langsung saja menggoda Isa yang tersipu-sipu [me]malu[kan]. Kelihatannya perempuan Korea itu memang benar-benar kepincut hatinya dengan Isa, karena ketika gerombolan Korea tersebut hendak pergi, si perempuan Korea tersebut meminta alamat e-mail Isa cie cie cieeeee :p

Sekitar jam 2, aku, Hera, Isa dan Tika berangkat ke Pogung Baru untuk makan rujak bersama Jack, Bondan, Vando dan Dama. Sesampainya di tempat rujak es krim, kami melihat antrian yang panjang. Baru kali ini, aku melihat orang mengantri untuk beli rujak es krim. Sembari menunggu rujak es krim, kami semua mengobrol kesana-kemari. Jack memberiku sebuah kenang-kenangan yang sangat lucu. Aku senang sekali, tetapi juga merasa bersalah karena aku tidak sempat memberi dia apa-apa =(. Kami di sana hanya satu jam, karena Bondan sibuk dan Jack harus segera pergi ke bandara. Satu lagi ucapan perpisahan... sayang aku tidak bisa mengantarkan Jack ke bandara =(. Semoga saja waktu akan mempertemukan kami kembali.

Sepulangnya dari tempat rujak es krim, Hera mengantarkanku ke Bayonet karena aku perlu mencetak beberapa gambar/foto. Ternyata Bayonet kehabisan kertas, jadi tidak bisa mencetak gambar-gambar yang aku perlukan. Jadinya aku jalan-jalan tanpa tujuan di sepanjang jalan Jendral Sudirman dan Tjik Di Tiro untuk mencari warnet, dengan menahan sakit di kaki karena aku mengenakan sepatu hak tinggi, dan ujung-ujungnya aku mencetak gambar-gambar tersebut di warnet Blangkonet. Begitu selesai, aku baru sadar bahwa jam menunjukkan angka 5.20 dan acara perpisahan Bondan diadakan jam 7.00. Panik, aku berlari-lari dan segera menaiki bis no. 4 dan pulang ke rumah. Di perjalanan pulang ke rumah, aku menggunakan waktu yang ada untuk menggunting gambar yang sudah aku cetak. Aku merasa penumpang lain melihatku dengan pandangan yang aneh, tetapi aku cuek aja.

Sampai di rumah, aku segera menyusun buku kenangan, menempel gambar-gambar, mandi dan berdandan dalam jangka waktu 45 menit, karena aku mengira Tika akan menjemputku jam 6.45 agar bisa sampai di Pondok Cabe tepat waktu. Tapi yang namanya Tika, pasti ada jam karet. Kami baru berangkat jam 7.15 dan tiba di Podok Cabe jam 7.30.

Acara perpisahannya diadakan di lantai atas dan di sana, setelah memberi salam kepada Bondan, aku memberi isyarat kepada Heru dan Vando untuk turun ke bawah dan mengisi buku kenangan untuk si Bondan. Sesaat setelah itu Deassy dan Niken datang, mereka belum mengisi buku kenangan juga. Akhirnya ada antrian mengisi buku kenangan dan aku merasa cemas kalau Bondan turun ke bawah. Deassy mengisi buku kenangan itu lamaaa sekali, sehingga membuat Niken merasa sebal dan mencoret-coret halaman buku kenangan dengan curhat dia hahahaha.
Acara perpisahan berjalan dengan lancar. Banyak sekali yang datang. Aku dapat tempat duduk yang berada di ujung dan terpisah jauh dengan anak-anak UGM lainnya. Tetapi tidak apa-apa, aku juga duduk dengan orang-orang yang menyenangkan a.k.a Tika, Isa, Deassy dan Niken. Kami membicarakan hal-hal yang sangat tidak penting, seperti pertanyaan-pertanyaan jayus dari jaman dahulu kala, "Kenapa anak babi jalannya menunduk?", "Bagaimana cara memasukkan gajah ke kulkas?", "Kenapa katak jalannya melompat?" dan sebagainya. Pokoknya, meja kita yang paling ramai hahaha.

Acara perpisahan dan kumpul-kumpul tidak bisa dilepaskan dengan kenarsisan dan acara poto-poto. Kami, maksudku Deassy, sangat antusias dalam mengambil poto. Ketika semua sudah mati gaya, Deassy tetapi bersikeras untuk mengambil poto, potret diri khususnya :p.
Setelah hampir semua tamu pulang, aku menyerahkan bingkisan berisi buku kenangan kepada Bondan. Awalnya dia kelihatan bingung, sebaiknya bingkisan itu dibuka atau tidak. Aku memintanya untuk membuka bingkisan itu karena aku ingin tahu aku dia menyukai buku kenangan yang berisi kesan dan pesan orang-orang yang dia kenal selama setahun ini (termasuk dosen Bahasa Jepang yang sudah aku minta untuk mengisi, dengan mengorbankan segala harga diri hahahahaha). Ketika membuka buku itu, dia hanya terdiam, sampai aku salah tingkah. Jangan-jangan, dia tidak suka? Tetapi dia menghargai buku itu dan berterima kasih kepada semua yang sudah mengisi buku tersebut - yang masih ada di Pondok Cabe tentunya. Mata Heru kelihatan berkaca-kaca, kelihatannya dia akan menangis - aku tidak bisa membayangkan reaksi Heru esok hari ketika mengantarkan Bondan ke bandara...

Kami semua hendak pulang dan rasanya ada sesuatu yang sangat memberatkan hati. Sudah sekian kali aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman yang pergi... Mungkin sebentar lagi giliranku, entahlah, aku terlalu takut untuk memikirkan itu. Satu tahun telah berlalu dengan cepat, banyak hal-hal yang tidak dilakukan, banyak orang-orang yang terlewati, hal-hal kecil yang tak terlihat oleh mata tetapi mereka memiliki makna yang sangat penting. Aku merasa semua kasat mata, dan baru akan terlihat ketika berada jauh dari semua itu, dan yang ada hanya penyesalan. Entahlah... aku sebenarnya tidak merasa sedih, melankolis atau mendayu-dayu dengan acara perpisahan malam itu. Di acara itu aku senang, tertawa-tawa bersama orang-orang yang duduk di meja itu - tapi ada kesan pahit di akhir acara itu. Aku tak tahu kenapa...

Anyway, aku pulang dengan rasa yang takut karena aku menyadari: aku akan home alone! Heru, Tika, Niken dan Deassy semua menceritakan pengalaman mereka berada di rumahku malam-malam, dari yang mendengarkan suara tentara, drum dan pengalaman-pengalaman seram lainnya. Bagaimana aku tidak takut. Setelah memohon-mohon dan menitikkan air mata buaya, aku berhasil merayu Deassy untuk menginap di rumahku hahahaha. Akhirnya kami menghabiskan malam berdua sambil mengobrol sampai jam 3 pagi. benar-benar hari yang aneh :s

2 comments:

  1. Gila panjang banget! (aku belum baca sih, cuma pingin kasih expresi awal dulu hehehe)

    ReplyDelete
  2. Wow! akhirny terbaca juga novelmu ;)

    1. Rujak d pogung baru deket bgt ma rumahku hehe (info aja)
    2. Suara tentara? b'hantu rumahmu, Laksmi? :S

    Udah gapapa. Semua yg udah cabut pasti ngerasain hal yang sama. Jadi ini giliranmu. Inget aja pas kamu perpisahan SMP ato SMA dulu. Lama kelamaan pasti 'sembuh' juga. Lebih baik menangis sejadi2ny dengan semua teman2 daripada menangis sendiri nantinya.

    Lagipula rata2 semua yang dah cabut mereka cabut ke negara yang sama dengan kamu kan? ;)

    Kalo kamu bisa tinggal d Yogya sampe satu tahun, pasti kamu bisa datang lagi buat kunjungan2 nantinya ;)

    Hati2 aja slama perjalanan ya.

    ReplyDelete