Tuesday, 17 February 2009

++ Sebuah Cerita di Hari yang Berhujan ++

Pagi ini aku ada janjian dengan seorang teman dari zaman aku masih SMA. Sudah dua tahun kami tidak saling berjumpa, walaupun masih berhubungan melalui jaringan maya, alias Facebook. Beberapa hari yang lalu, selagi chatting, kami akhirnya membuat janji untuk bertemu pagi ini. Agar tidak ada kesalahpahaman, aku membuat semuanya rinci: bertemu hari Rabu jam 9 pagi, di depan stasiun kereta api yang menjadi tempat pemberhentian terakhir bis jurusan L90 dan aku akan mengenakan jaket panjang berwarna abu-abu. Aku juga tidak lupa memberikan nomor telepon genggamku yang terbaru supaya dia bisa menghubungiku jika ada perubahan rencana.

Jadi hari ini, aku tiba di tempat yang telah kami janjikan jam 9.02 - menurut jam telepon genggamku yang waktunya lebih cepat 5 menit. Aku melihat sekelilingku dan sang teman belum datang. Aku menghela napas, karena setidaknya aku tidak terlambat. Sekitar 10 menit berlalu ketika bis jurusan L90 berhenti di depanku dan dengan penuh harapan, aku melihat satu-satu penumpang yang turun dari bis tersebut. Tidak ada temanku. Lambat laun aku menjadi gelisah karena dengan berlalu-lalangnya bis-bis di depanku, temanku tidak kunjung tiba. Untuk menambah gundah dan gelisahnya hati, gerimis hujan mengguyur dan semakin menderas. Ketika jam menunjukkan angka 10.15 dan 4 bis jurusan L90 berhenti di depanku, aku menyerah. Aku menganggap temanku tidak akan datang dan dengan sedihnya, aku meninggalkan stasiun kereta api. Lagi-lagi aku ditelantarkan oleh temanku hiks hiks hiks...

Berhubung diri merasa jengkel, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah dan main-main ke kampus UTS yang dapat ditempuh dalam waktu 5 menit dengan jalan kaki. Di laboratorium komputer UTS, aku membuka Facebook dan sebuah pesan menantiku - tertanda dari temanku dan dikirimkan kemarin malam jam 10.06. Pesan itu mengatakan bahwa dia tidak bisa datang pagi ini dan ingin mengganti jadwal pertemuan ke lain waktu. Aku hanya bisa tertegun. Bukankah jauh lebih baik jika temanku menghubungi melalui telepon daripada sebuah pesan di Facebook? Memang setiap hari aku mengunjungi Facebook, tetapi kebetulan saja kemarin malam aku sakit dan tidur lebih awal sehingga tidak sempat mengunjungi Facebook. Entah siapa yang salah, temanku yang tidak menghubungiku langsung atau aku yang 'lalai' dalam tidak memperiksa rekening Facebook-ku setiap saat setiap hari =S. Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama, tetapi sudah ketiga kali aku mengalami hal yang sama; teman-temanku membatalkan pertemuan kami melalui Facebook/Hotmail di detik-detik terakhir. Aku sangat menyesalkan bahwa jaringan sosial maya lambat laun menggantikan interaksi langsung antar sesama. Sedihnya...

Di lain sisi, hari ini tidak terlalu menyedihkan bagiku. Aku mengunjungi kampus UTS yang ternyata sedang mengadakan acara Orientation Day ^__^. Lantai 3 dan 4 dipenuhi oleh kios-kios yang mempromosikan klub-klub atau barang-barang mereka; sebagian besar dibentuk oleh mahasiswa setempat. Di sana kutemui klub komunitas pecinta game, anime, komputer, pendaki gunung, bulu tangkis, perhimpunan mahasiswa Jepang, Taiwan, Cina, Muslim dan sebagainya - aku hanya bisa menyesalkan: kios untuk Perhimpunan Mahasiswa Indonesia kok tidak ada penjaganya? Huh, sebal. Orientation Day pastinya menyenangkan untuk para mahasiswa yang menghemat (baca: penyediaan barang-barang gratis untuk para pengunjung). Aku dapat tas cantik, buku tulis, 3 botol air minum (dengan merek yang berbeda), sandwich, satu bungkus permen dan kue kering ^_^.

Yah, akhirnya aku tidak terlalu sebal hari ini...

No comments:

Post a Comment