Friday, 23 January 2009

++ Sebelum, Ketika dan Sesudah Perpisahan ++

Ini blog pertama yang aku tulis sejak aku tiba di Australia. Satu perbedaan yang mencolok: internetnya, cepat sekali!!!


21 Januari


Sehari sebelum hari H. Dum dum dum. Aku terbangun pada jam 6.15 ketika telepon genggamku berdering – panggilan yang telah aku nanti-nanti sejak kemarin malam. Ima menelponku dan kami menghabiskan 1.5 jam untuk saling mengobrol tentang rupa-rupa kehidupan kami (sebagian besar tentang aku sih hehehe). Sembari berbincang-bincang dengan Ima, aku memasak brownies kukus yang akan aku bawa ke Inculs dengan tutor-tutor sebagai kelinci percobaannya mwahahaha. Pembicaraan selesai, brownies kukusku pun matang, walaupun terlihat sangat, sangat mencurigakan. Yah tidak apalah, yang penting kan niatnya =).


Aku berangkat dengan membawa sekotak brownies kukus hasil masakan sendiri. Di Inculs masih sepi, hanya aku sendiri. Karena malas menunggu kelinci-kelinci percobaanku datang, aku memutuskan untuk mengirim SMS, meminta mereka untuk datang. Korban pertama adalah Taufik; dia mencoba dua brownies: rasa kacang dan rasa coklat biasa. Dia menunjukkan wajah yang aneh. Aku tanya pendapatnya. Mungkin dia hanya menjaga perasaan saja, karena dia bilang rasanya lumayan enak, walaupun penampilan dan kelembutannya masih dipertanyakan. Dia lebih suka brownies rasa kacang dan meminta ijin untuk membuat brownies rasa polos ke tempat sampah T.T… ya sudah, aku relakan saja. Lebih baik begitu daripada meracuni anak orang.


Tutor-tutor yang lain mulai berdatangan; Isa, Faizal, Hamzah dan Fickry semua aku paksa untuk mencicipi brownies kukusku. Kelihatannya mereka punya pendapat yang hampir sama: browniesku lebih tepat disebut brownies jenang daripada brownies kukus T.T. Mbak Sinta dan Deassy juga ikut mencicipi dan Deassy kelihatan sangat, sangat tersiksa untuk menghabiskan browniesku. Setiap 10 detik dia menyebut kata ‘jenang’ untuk menggambarkan ‘kesan’ dia terhadap makhluk coklat ajaib ciptaanku.


Entah kenapa, setutupnya Inculs, brownies jenangku habis. Walaupun mereka makan brownies tersebut karena faktor kelaparan saja, bukan karena rasanya, aku tetap merasa senang...


Sepulangnya dari Inculs, aku, Isa dan Fickry nongkrong di Rumah Coklat untuk merampok bandwidth mereka. Tetapi setibanya di sana, aku menghadapi masalah yang sangat besar. Sebagian minuman yang Rumah Coklat sajikan adalah minuman yang mengandung coklat dan hari itu, aku sudah terlalu banyak makan brownies yang notabenenya coklat juga. Akhirnya, aku memesan kentang goreng saja. Dua piring…


Aku nongkrong di Rumah Coklat hingga jam 8 malam dan kemudian di jemput Cita tercinta, untuk mengunjungi radio UNISI untuk bertemu dengan seseorang. Setelah itu, kami berkeliling kota Yogyakarta dan bernostalgia sedikit. Sebelum pulang ke rumah, Cita dan aku memenuhi janji yang sudah kami ikrarkan beberapa bulan lalu: sebelum aku meninggalkan Yogyakarta, kami berdua harus makan durian di pinggir jalan. Yah, malam itu kami nongkrong di pinggir jalan sembari menikmati durian yang rasanya sangat manis. Semanis pengalaman yang telah aku lalui di Yogyakarta selama satu tahun terakhir ini =)


22 Januari


Aku bangun pagi untuk merampungkan semua kegiatan dan urusan yang harus diselesaikan sebelum aku berangkat. Pertama-tama, aku pergi ke Kayonna Studio untuk mengambil foto Janice dan kemudian langsung berangkat ke Gedung Pusat untuk mendapatkan Surat Pembebasan Fiskal. Setelah itu, aku mengunjungi Inculs tercinta untuk bertemu dengan siapa saja yang ada dan juga berpamitan kepada Bapak-Bapak penjaga Inculs. Tentunya, aku menyempatkan untuk memainkan piano, walaupun lagu yang kumainkan tidak pernah berubah. Aku meninggalkan Inculs (T.T) sekitar jam 12 karena aku mau makan siang dulu, di Kantin Fakultas Ekonomi. Itu kali pertama (dan semoga saja bukan kali terakhir) aku makan di sana. Ternyata makanannya lumayan enak... aku berbohong, karena sebenarnya makanan yang disajikan di kantin Fakultas Ekonomi sangat enak. Walaupun suasana di sana terkesan dingin, makan siang di sana sangat berkesan.


Setelah makan siang, aku segeramenuju Gedong Kuning, rumah Om dan Tanteku untuk berpamitan (semoga saja hanya pamit sementara saja). Setelah itu, aku pulang ke rumah dan mengangkat kardus-kardus berisi barang-barang yang tidak bisa aku bawa ke Australia ke rumah Cita. Siang itu sangat panas dan aku sebenarnya sudah sangat kecapaian karena kurang tidur dan terlalu banyak kegiatan.


Pada jam 3, aku dan kakakku tiba di bandara dan kami segera check-in. Tidak ada masalah waktu itu, tetapi pundakku sangat pegal dan linu karena harus membawa banyak barang. Setelah selesai check-in, kami menunggu di luar agar bisa bertemu dengan beberapa teman yang mengantarkan kami pergi. Orang pertama yang datang adalah Tika, tidak seperti biasanya (hehe). Kemudian, Isa, Hamzah, Cita dan Yulia menyusul. Sembari menunggu waktu boarding pesawat Garuda, kami mengobrol T.T. Jam 3.30 dan telepon genggam Tika berdering – Deassy kelihatannya akan datang terlambat, karena dia masih ada di Ambarukmo Plaza. Tapi syukurnlah, dia masih bisa datang sebelum aku pergi dan menyempatkan diri untuk mengambil foto (hahahaha). Jarum jam menunjukkan pukul 4.00 dan aku harus segera masuk ke dalam untuk boarding. Setelah berpamitan dengan semua teman yang mengantarkan aku, aku masuh ke dalam. Tetapi tunggu, telepon genggamku berdering dan Osy ternyata baru sampai di bandara dan ingin bertemu denganku. Seperti adegan di film Ada Apa Dengan Cinta, aku segera berlari keluar dan begitu melihat Osy di luar, aku segera memeluknya. Walaupun hanya sebentar, setidaknya aku merasa sangat lega Osy bisa datang mengantarkanku T.T.


Aku dan kakakku memasuki pesawat dan melambaikan tangan ke kota Yogyakarta tercinta, yang telah menjadi rumahku selama satu tahun dan akan selalu memiliki tempat yang khusus di hatiku.


Sekitar jam 5.30, aku tiba di Jakarta. Hal pertama yang aku lakukan: mengirim SMS ke teman-teman, agar sisa pulsa dan SMS gratisku bisa aku habiskan. Kakakku terlihat sangat sebal, karena yang aku lakukan hanya mengirim SMS. Sekitar jam 6, kami mengurus Pembebasan Fiskal, dengan berbekal surat dari UGM, fotokopi paspor dan kartu mahasiswa UTS, kami mengajukan Pembebasan Fiskal. Kami sangat terkejut ketika staf di pos Pembebasan Fiskal menolak pengajuan kami karena kami sudah tinggal di Indonesia selama lebih dari 183 hari. Walaupun kami mahasiswa dari institusi pendidikan asing, kami diwajibkan membayar 2,5 juta Rupiah per orang. Aku dan kakakku sangat syok, 2,5 juta Rupiah adalah uang yang sangat banyak – kalau buat makan di angkringan, bisa untuk berapa bulan??? Kakakku mencoba berdebat, tetapi tetap saja stafnya menjawab dengan ketus bahwa hukum adalah hukum dan kami diwajibkan membayar fiskal.


Dengan lemas kami menuju pos Pembayaran Fiskal. Staf di sana terlihat lebih ramah dan aku dengan wajah sedih mencurahkan keluh kesahku kepada staff tersebut. Setelah berkeluh kesah panjang lebar, kelihatannya aku berhasil mendapatkan simpati darinya. Dia menganjurkan agar aku dan kakakku mencoba peruntungan kami di pos Pembebasan Fiskal lainnya, semoga saja kami bisa lolos. Aku segera meluncur ke pos Pembebesan Fiskal tersebut, walaupun kakakku sudah malas tidak karuan dan memilih untuk membayar fiskal dengan harapan UTS akan menggantikan uang tersebut. Tetapi aku tidak mau mengambil resiko dan bagiku, uang senilai 2.5 juta patut diperjuangkan! Akhirnya kakakku hanya pasrah dan membiarkanku beraksi sendiri, mencoba mendapatkan bebas fiskal. Aku memasang wajah yang tidak berdosa dan seolah-olah tidak tahu apa-apa, dan memberikan surat-surat dari UGM dan paspor kami. Kelihatannya, staf tersebut salah membaca dan membiarkan kami pergi, dan mengatakan karena kami mahasiswa asing dan sudah menetap di luar negeri, otomatis kami mendapatkan Pembebasan Fiskal. Satu masalah terlampaui dan satu masalah yang tersisa adalah penjaga pos Pengecekan Fiskal. Rasa gelisah memenuhi dada tetapi aku mencoba untuk tenang.


Penjaga pos tersebut menyadari bahwa dalam kondisi kami, kami HARUS membayar fiskal. Walau aku merasa sangat tertekan, dengan wajah tenang dan pura-pura terkejut. Aku mengutip ucapan penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut; bahwa kami otomatis mendapatkan pembebasan fiskal. Mereka tidak percaya dan kami digiring kembali ke Pos Pembebasan Fiskal. Mereka saling berdebat dan akhirnya, penjaga pos Pembebasan Fiskal menyadari bahwa aku dan kakakku tiba di Australia pada tahun 2008, bukan 2009 yang sebelumnya dia kira. Berarti, kami telah menempati Indonesia selama lebih dari 183 hari dan semestinya, kami membayar pajak fiskal. Dengan memasang wajah yang terkejut dan memelas, aku mencoba untuk meraih simpati penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut. Aku menggunakan suara yang bergetar sembari mengatakan “Jadi… kami harus membayar pajak fiskal, Pak?” Akhirnya, dengan berbagai upaya, penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut meloloskan aku dan kakakku, dengan catatan hal ini akan terjadi satu kali saja dan di esok hari, aku harus membayar pajak fiskal jika terjerat dalam situasi yang sama. Setelah mengucapkan banyak terima kasih dan menebar senyum, aku dan kakakku segera memasuki ruang tunggu pesawat. Sebenarnya, aku setengah tidak percaya dengan keberuntunganku waktu itu, dan aku tidak jadi kehilangan 2.5 juta Rupiah tercinta.


Di ruang tunggu, aku meneruskan kegiatan SMSku karena sisa pulsaku masih 15 ribu dan sayang bilang terbuang. Alhasil, aku ber-SMS ria dengan beberapa teman untuk membunuh waktu. Entah apa yang terjadi, dengan mengirimkan SMS kepada teman-teman, aku jadi merasa sangat sedih. Waktu yang tersisa semakin sedikit, aku jadi terbawa suasana. Mungkin ini gejala orang yang akan meninggalkan tanah airnya. Panggilan boarding menyeru-nyeru dan aku memasuki pesawat, duduk manis dan lagu Leaving on A Jetplane berputar di kepalaku. Aku tidak akan mengatakan Selamat Tinggal Indonesia, tetapi Sampai Jumpa Indonesia, karena aku akan kembali. Pasti.


Setelah 2 jam perjalanan, aku dan kakakku tiba di bandara Changhi. Tidak ada pengalaman yang terlalu menarik, karena aku tidak sempat melakukan apa-apa, kecuali membaca buku dan bermain internet. Aku hanya menunggu satu jam dan berangkat menuju Australia.


23 Januari


Jujur saja, biasanya aku menikmati penerbangan dengan Singapore Airlines. Tetapi kali ini, aku merasa sangat tidak nyaman. Perjalanannya terasa lama, makanan yang disajikan tidak seenak dulu dan pilihan lagu, game dan film yang ditawarkan tidak sebanyak dulu. Entahlah, mungkin aku hanya merasa sangat lelah hari itu dan segala sesuatu terasa sangat negatif.


Aku dan kakakku sampai di Australia jam 11.00 dan melewati prosedur yang sangat aku benci: mengambil barang-barang (yang memerlukan waktu sangat lama) dan melaporkan barang-barang beresiko (seperti makanan dan obat-obatan). Aku yang sudah sangat lelah waktu itu, merasa sangat tertekan melihat antrian yang amat sangat panjang sekali (ya, aku sadar tata bahasa ini salah :p). Akhirnya, setelah 1.5 jam, kami keluar dari bandara dan bertemu dengan orang tua yang sudah menunggu di bandara sejak jam 7 (!!!).


Kami pulang dengan taksi dan setibanya di apartemen yang sudah lama tidak aku tempati, aku merasa suasananya sangat berbeda. Apartemen itu sudah memiliki penataan yang berbeda dan ada beberapa perabotan baru. Berbeda, tapi aku merasa nyaman.


Aku teringat, aku harus segera membeli kartu SIM yang baru untuk menghubungi teman-temanku di Indonesia dan di Australia bahwa aku sudah sampai tujuan dengan selamat. Mamaku menemaniku untuk membeli kartu SIM baru. Sembari berjalan-jalan, aku melihat ada beberapa toko dan rumah makan baru, yang tidak pernah ada di dalam ingatanku. Suasana Australia: sangat panas dan kering. Aku belum terbiasa dengan cuaca seperti ini :s


Aku membeli kartu SIM yang baru dan mengirim SMS ke teman-temanku, dan aku tertidur karena sangat lelah. Aku terbangun sekitar 7pm aku melihat ke luar dan langit masih terang benderang. Aku hampir lupa, sekarang musim panas di Australia. Karena udaranya sudah tidak sepanas siang ini, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai Manly. Udaranya sangat sejuk. Kicauan burung terdengar merdu. Langit merah terlihat indah ketika matahari terbenam. Bunyi ombak yang berdeburan meresap ke dalam hati. Tetapi tetap saja, aku belum bisa menikmati pemandangan seperti ini. Semuanya masih terkesan berbeda.


Begitulah hari pertamaku di Australia. Aku pulang ketika biru keabu-abuan mewarnai langit dan burung-burung berhenti berkicau.


Kesan-kesanku:

1) Hore, aku bisa minum air kran tanpa takut akan kena diare!

2) Banyak sekali orang bule berkeliaran di Australia (ya, iyalah) dan mereka sangat tinggi. Aku merasa sangat pendek dan kecil…

3) Di kamar mandi umum, kok cuma ada toilet paper? Di mana airnya?





24 Januari


Dum. Dum. Dum. Hari ini aku belanja untuk pertama kalinya di Australia. Aku menyiapkan diri untuk terkejut dengan harga-harga yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan harga-harga di Indonesia. Memang benar, aku terkejut, karena harganya lumayan murah dan hampir setara dengan di Indonesia, bahkan ada yang lebih murah.


Pertama, aku melihat sekotak strawberry dengan berat 250gram, tertera harga… 99 cent! Itu sama dengan 7500 Rupiah. Seingatku, di Indonesia, 100gram strawberry seharga 5000 Rupiah. Jadi bila dihitung-hitung, strawberry di Australia lebih murah daripada di Indonesia. Aku berada di atas awan dan segera mengambil 4 kotak. Di sebelah tumpukan strawberry, aku melihat sekotak buah plum 500gram dengan harga… 99cent?! Aku setengah tidak percaya, dan aku mencoba memastikan, dan memang buah plum sedang di obral. Di Indonesia, satu kilo buah plum sama dengan 36,000 rupiah! Dengan cepat aku mengambil sekotak buah plum. Kemudian aku melirik buah anggur hijau di depanku. Satu kilo seharga 2 dollar = 15,000 Rupiah, kalau tidak salah anggur yang sama dijual dengan harga 30, 000 Rupiah di Indonesia. Aku tersenyum, dan mengambil satu kilo anggur dan memasukkannya ke dalam keranjang. Aku dikejutkan lagi dengan sebungkus jeruk sunkist 3 kilo, yang harganya… 99cent! Aku membelalakkan mata. Murah sekali! Dengan bahagia, aku memasukkan satu bungkus jeruk sunkist ke keranjangku. Aku kemudian membeli sebungkus wortel satu kilo yang harganya 1 dollar dan susu segar seharga 1.25 dollar, kira-kira samalah harganya dengan di Indonesia. Tetapi kemudian aku dikecewakan dengan harga pisang, yang tidak lebih murah daripada harga di Indonesia. Tertera harga 2.99 dollar per kilo. Berhubung aku sangat menyukai pisang, aku tetap mengambil satu sisir pisang. Sisanya, aku membeli 3 kaleng tuna yang masing-masing berberat 185 gram dan harganya 89 cent.


Begitulah catatan hari ini. Aku belanja untuk pertama kalinya dan lumayan dikejutkan dengan harga-harga barang yang tidak membuat kantong terlalu menangis. Tapi aku baru sadar… sebagian besar barang yang aku beli adalah sayur dan buah-buahan hahahaha. Program makan sehat, mari kita mulai!



EDIT: Hanya ingin menambahkan sesuatu. Sore ini aku berjalan-jalan lagi di pantai Manly, yah hitung-hitung apartemenku hanya 2 menit jalan dari pantai. Setelah aku berjalan-jalan selama 40 menit, matahari terbenam dan aku melihat sesuatu yang sangat, sangat menyentuh hatiku, sehingga aku berhenti berjalan selama beberapa puluh detik. Di taman seberang pantai, aku melihat seseorang bersembahyang Maghrib di bawah pohon pinus. Aku tidak melihat wajahnya karena dia membelakangiku, yang aku lihat adalah seorang laki-laki berambut coklat dan berkulit putih. Dia tidak mengenakan sarung atau menggunakan sajadah, tetapi gantinya, dia melilitkan handuk panjang yang bergambarkan bendera Australia dan alas tanah seadanya. Tidak ada Adzan Maghrib, hanya kicauan burung-burung yang menandakan bahwa matahari sudah mulai terbenam dan semilir angin yang menyejukkan. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan merasuk di hati. Hal ini mengingatkanku akan perkataan temanku dulu bahwa "Di mana pun kamu berpijak di bumi ini, di situlah Tuhan berada dan tempat bagi semua kaum Muslim untuk menunaikan ibadah mereka". Terima kasih orang yang tak kukenal, hari ini kamu memberiku pelajaran yang sangat berarti...

1 comment:

  1. wah ada orang solat ky gt y? keren y... ak bacany jg ikut tersentuh Dew =)

    tar kalo kt smpet ktemuan d Yogya kalo km balik, ak cobain jenangny jg y =))

    btw ak mrasa kasian ma pngalaman km dgn fiskal. ak kira km pake NPWP gt dr ortu.

    ReplyDelete