Wednesday, 9 September 2009

++ Langkahku ++

Dahulu, pernah aku ucapkan sebuah doa. Aku memohon untuk mendapatkan sesuatu; bukan sekedar sebutir kembang gula atau sehelai kain sutra, namun satu yang sangat aku inginkan dan aku butuhkan. Bersaksilah seorang terdekat akan doaku, dan dengan sedenting nada peringatan, dia berkata,

“… tapi berhati-hatilah dengan segala yang kamu minta kepadaNya, karena untuk setiap doa yang dikabulkan, ada konsekuensi serta cobaan yang mengiringinya, dan sekiranya lah, kamu siap untuk menghadapinya.”


Aku yang saat itu sebenarnya tidaklah muda, namun belum dewasa, menganggap ucapannya semilir angin lalu karena aku meyakini, walau sebenarnya tidak memahami, doa yang aku panjatkan. Tuhan Maha Penyayang dan dikabulkanNyalah permohonanku. Saat itu serasa mengapung di pantai kebahagiaan dan berbasuhkan hangatnya cahaya matahari. Ah, tidak kusadari, gelombang ombak besar akan menghantamku.

Benar, ucapan sang sahabat yang terdengar tersamar oleh keangkuhanku, perlahan-lahan menjadi kenyataan. Hal-hal yang dahulu kasat mata dan serasa tidak penting, menjadi begitu berharga dan tidak bisa aku acuhkan. Ingin aku menjadi seseorang yang mampu menata hidupku, dengan dewasa menjalani konsekuensi yang berbuah dari keputusanku. Aku ingin bisa tulus tersenyum kepada mereka, dan mereka tersenyum kepadaku, diriku sebagaimana aku apa adanya.

Untuk itulah aku perlu melangkahkan kakiku, walau aku harus tertatih-tatih, tertahan oleh sebongkah keraguan dan ketakutan akan menjadi seseorang yang berbeda dengan yang mereka kehendaki. Biarlah, mungkin itu akan menjadi salah satu konsekuensi yang terlahir oleh keputusanku, aku hanya bisa berdoa, dan tidak sekedar berdoa, bahwa semua yang akan terjadi adalah untuk yang terbaik.

Satu yang kusadari, walau waktu telah mengambil sebagian usia dari hidupku dan mengukir satu lagi kerut di wajahku, ada satu hal yang tidak akan pernah berubah. Aku tetaplah manusia yang angkuh, akulah karang yang tetap keras berdiri. Tidak ada dalam dirinya pilihan untuk melunak, hanyalah keras atau hancur tanpa bekas. Itulah aku. Dan kali ini, keangkuhanku membuatku mengambil jalan yang tidak biasa. Saat di depanku kutemui persimpangan: satu menuju hutan belantara berduri dan satu padang hijau ilalang, kupilih jalan pertama, walau jantung berdetak kencang dan keringat mengucur deras. Ya, kupilih jalan itu, karena suara hati terdalam mengatakan banyak hal yang tersembunyi di dalam hutan yang jarang terjamah itu. Sesuatu yang terkubur, yang harus aku gali dengan tangan telanjangku sendiri…

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan tergores duri-duri tajam, tenggelam dalam kubungan lumpur atau menghilang di tengah kepulan kabut dan selamanya kehilangan jalanku di dalam hutan tersebut. Hanya Tuhan yang tahu. Aku hanya bisa berharap, aku akan melewati satu perjalananku dan kutemui cahaya di ujung jalan yang telah aku pilih. Biarlah aku berhiaskan luka dan bermantelkan lumpur, dan mungkin akan dicemooh aku oleh mereka atas ketidakindahanku, asalkan aku genggam hal yang berharga bagiku, yang membuatku aku, dan membuat hidupku kini dan nanti tidak sia-sia.

Mengambil cuplikan puisi Robert Frost yang aku kagumi:

“…two roads diverged in a wood, and I --
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.”

Tuesday, 18 August 2009

++ ... ++

++ Putus ++

Selama masa berjalan bersama,
‘Kutahu irama kita terdengar berbeda,
Namun aku mencoba mengingkari semua,
Yakinkan diri bahwa engkau dan aku adalah sama,
Walau hati kecilku samar berkata… hari ini akan tiba.

Kini di depan persimpangan kita berdiri,
Kugenggam tanganmu, mengira jalan yang sama ‘kan kita tapaki
Tapi perlahan, tanganku engkau lepaskan,
Berkata t’lah engkau tetapkan hati ‘tuk ‘tak mengikuti,
Takdirmu ‘kan engkau ciptakan sendiri.

Dan engkau pun langkahkan kaki ke jalan itu,
Hasrat hatiku ‘tuk meraih tanganmu, menghentikanmu,
Karena ‘kulihat jalanmu berawan kelabu,
Tapi ‘ku ‘tak kuasa, kala kulihat senyum di bibirmu,
Seolah katakan semua adalah yang terbaik, untukmu…

Ah, satu tali terputus sudah,
Dan aku ‘tak berdaya untuk merubah,
Dunia kita yang menjadi dua, terbelah…
Terjadi begitu saja, kala semua terasa begitu indah,
Dan ‘ku kira kita ‘tak ‘kan pernah berpisah.

Kini engkau pun beranjak pergi,
Namun percayalah, aku ‘kan tetap di sini,
Penuh harap, aku ‘kan s’lalu menanti,
Saatnya engkau datang kemari,
Dan menyambung tali yang t’lah engkau putuskan kembali.

Dan apa pun jalanmu, keputusanmu,
Aku ingin engkau tahu, ‘tak ‘kan berubah rasaku padamu,
Karena engkau adalah bagian dari hidupku,
Dan kuyakin masih tersisa tali pengikat kita, walau hanya satu,
Yang ‘tak ‘kan pernah terputuskan oleh waktu.

Sydney (UTS Market Building 5 C1.27) 19 Agustus 2009 11:23

PS: Tidaaak, aku tidak putus dengan siapa-siapa kok hahaha

Thursday, 19 February 2009

++ Patah Hati ++

Ya, aku patah hati. Aku tidak bisa memiliki apa yang hatiku inginkan. Aku hanya bisa memandanginya, tanpa bisa memilikinya. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, aku mengucapkan selamat tinggal kepada... sebuah gaun putih cantik yang tidak bisa aku beli.

Mungkin kalian berpikir aku terlalu berlebihan, tetapi aku jamin, sebagian besar wanita pasti akan tergiur jika melihat sebuah gaun yang sangat indah dengan harga yang cukup terjangkau. Nah, sore ini gairahku seakan meletup-letup bagaikan gunung Merapi yang sedang dijaga oleh Mbah Marijan (semoga saja aku tidak terlalu berlebihan dengan penggunaan majas simile-ku hahaha) ketika aku melihat gaun putih cantik yang dipajang di sebuah butik. Saat itulah aku percaya akan cinta pada pandangan pertama, karena aku tidak bisa melepaskan pandanganku terhadap gaun itu. Segalanya terlihat sempurna, kecuali satu: gaun itu adalah gaun pernikahan huhuhuhuhu.

Tapi sumpah, rancangannya indah sekali. Gaun itu berbentuk halter neck yang kemudian menyilang di bagian punggung, talinya berhiaskan mutiara-mutiara kecil berkilauan. Di bagian dada terlihat bordiran bunga-bunga indah, bagian bawahnya rok mekar yang menjuntai sampai ke bawah dan dihiasi oleh pita-pita kecil yang terbuat dari sutra. Ah, pokoknya aku tidak bisa mengungkapkan betapa indahnya gaun pernikahan itu huhuhu. Gaun itu, jika diubah ke mata uang Rupiah, seharga sekitar Rp. 750. 000 (setidaknya lebih murah daripada kebaya yang paling sedikit berharga Rp. 2 Juta). Yang membuatku lebih sedih lagi, gaun itu ukuranku T.T. Kalau saja tidak ada Mamaku di situ, mungkin aku akan langsung membeli gaun itu walaupun tidak jelas kapan aku akan mengenakan gaun tersebut (buat koleksi, mungkin?). Mamaku mengatakan bahwa membeli baju pernikahan sebelum waktunya bisa membawa kesialan/menjadikan seorang wanita perawan tua (memang ada takhayul seperti itu, yah?). Jadinya aku hanya bisa menghabiskan waktuku memandangi dan membelai-belai gaun yang tidak bisa menjadi milikku. Ah, benar-benar kasih tak sampai hiks hiks hiks....

Sampai detik ini aku masih terbayang-bayang akan gaun tersebut. Semestinya akau tadi menyempatkan diri mencoba gaun itu, setidaknya untuk memuaskan hati hiks hiks... Mungkin besok aku akan ke butik itu lagi, semoga belum ada yang membeli gaun tersebut *berdoa*

Entah apa tujuan dari blog ini. Mungkin aku hanya ingin menumpahkan rasa frustrasiku karena tidak bisa memiliki gaun putih tersebut T.T

Tuesday, 17 February 2009

++ Sebuah Cerita di Hari yang Berhujan ++

Pagi ini aku ada janjian dengan seorang teman dari zaman aku masih SMA. Sudah dua tahun kami tidak saling berjumpa, walaupun masih berhubungan melalui jaringan maya, alias Facebook. Beberapa hari yang lalu, selagi chatting, kami akhirnya membuat janji untuk bertemu pagi ini. Agar tidak ada kesalahpahaman, aku membuat semuanya rinci: bertemu hari Rabu jam 9 pagi, di depan stasiun kereta api yang menjadi tempat pemberhentian terakhir bis jurusan L90 dan aku akan mengenakan jaket panjang berwarna abu-abu. Aku juga tidak lupa memberikan nomor telepon genggamku yang terbaru supaya dia bisa menghubungiku jika ada perubahan rencana.

Jadi hari ini, aku tiba di tempat yang telah kami janjikan jam 9.02 - menurut jam telepon genggamku yang waktunya lebih cepat 5 menit. Aku melihat sekelilingku dan sang teman belum datang. Aku menghela napas, karena setidaknya aku tidak terlambat. Sekitar 10 menit berlalu ketika bis jurusan L90 berhenti di depanku dan dengan penuh harapan, aku melihat satu-satu penumpang yang turun dari bis tersebut. Tidak ada temanku. Lambat laun aku menjadi gelisah karena dengan berlalu-lalangnya bis-bis di depanku, temanku tidak kunjung tiba. Untuk menambah gundah dan gelisahnya hati, gerimis hujan mengguyur dan semakin menderas. Ketika jam menunjukkan angka 10.15 dan 4 bis jurusan L90 berhenti di depanku, aku menyerah. Aku menganggap temanku tidak akan datang dan dengan sedihnya, aku meninggalkan stasiun kereta api. Lagi-lagi aku ditelantarkan oleh temanku hiks hiks hiks...

Berhubung diri merasa jengkel, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah dan main-main ke kampus UTS yang dapat ditempuh dalam waktu 5 menit dengan jalan kaki. Di laboratorium komputer UTS, aku membuka Facebook dan sebuah pesan menantiku - tertanda dari temanku dan dikirimkan kemarin malam jam 10.06. Pesan itu mengatakan bahwa dia tidak bisa datang pagi ini dan ingin mengganti jadwal pertemuan ke lain waktu. Aku hanya bisa tertegun. Bukankah jauh lebih baik jika temanku menghubungi melalui telepon daripada sebuah pesan di Facebook? Memang setiap hari aku mengunjungi Facebook, tetapi kebetulan saja kemarin malam aku sakit dan tidur lebih awal sehingga tidak sempat mengunjungi Facebook. Entah siapa yang salah, temanku yang tidak menghubungiku langsung atau aku yang 'lalai' dalam tidak memperiksa rekening Facebook-ku setiap saat setiap hari =S. Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama, tetapi sudah ketiga kali aku mengalami hal yang sama; teman-temanku membatalkan pertemuan kami melalui Facebook/Hotmail di detik-detik terakhir. Aku sangat menyesalkan bahwa jaringan sosial maya lambat laun menggantikan interaksi langsung antar sesama. Sedihnya...

Di lain sisi, hari ini tidak terlalu menyedihkan bagiku. Aku mengunjungi kampus UTS yang ternyata sedang mengadakan acara Orientation Day ^__^. Lantai 3 dan 4 dipenuhi oleh kios-kios yang mempromosikan klub-klub atau barang-barang mereka; sebagian besar dibentuk oleh mahasiswa setempat. Di sana kutemui klub komunitas pecinta game, anime, komputer, pendaki gunung, bulu tangkis, perhimpunan mahasiswa Jepang, Taiwan, Cina, Muslim dan sebagainya - aku hanya bisa menyesalkan: kios untuk Perhimpunan Mahasiswa Indonesia kok tidak ada penjaganya? Huh, sebal. Orientation Day pastinya menyenangkan untuk para mahasiswa yang menghemat (baca: penyediaan barang-barang gratis untuk para pengunjung). Aku dapat tas cantik, buku tulis, 3 botol air minum (dengan merek yang berbeda), sandwich, satu bungkus permen dan kue kering ^_^.

Yah, akhirnya aku tidak terlalu sebal hari ini...

Sunday, 25 January 2009

++ Sehari Yang Penuh Akan Makanan ++

Hari ini aku diundang oleh temanku ke acara BBQ (barbeque) alias bakar-bakaran. Reuni kecil-kecilan istilahnya, karena teman-temanku sangat ingin bertemu denganku setelah sekian lamanya. Sebenarnya aku merasa senang dapat bertemu dengan mereka lagi. Di lain sisi, aku merasa sangat malas karena tempat diadakannya BBQ, Homebush Bicentennial Park, ini sangatlah jauh – setidaknya untuk standar orang Yogyakarta.

Secara teori, jarak antara rumahku dan Homebush Bicentennial Park ‘hanya’ 32 km dan dengan mengendarai mobil, tujuan dapat dicapai dalam 30 menit. Tapi berhubung aku adalah insan yang tidak bisa mengendarai mobil, sarana transportasi umum menjadi satu-satunya jalan. Alhasil, rute yang diambil harus berputar-putar. Rutenya begini: aku berangkat dari rumahku ke pelabuhan Circular Quay dengan menaiki ferry. Kemudian dari pelabuhan Circular Quay, aku naik bis untuk menuju kampus UTS. Dari sana, aku akan dijemput oleh temanku, Malcolm, dan menuju rumah Andrew untuk mengurus bahan-bahan makanan dan setelah itu, kami berangkat menuju Homebush Bicentennial Park. Rumit? Memang.


Bakar-bakaran dimulai jam 11, jadi aku berangkat jam 9.15 agar dapat tiba di sana tepat waktu. Tetapi tetap saja, jam karet tetap berlaku dan kali ini bukan salahku! Keterlambatan ini disebabkan oleh pengunaan waktu yang tidak tepat-guna ketika berada di rumah Andrew sehingga urusan makanan tidak segera rampung. Dengan santai aku bercanda, “Aku kira Cuma orang Inda aja yang terbiasa dengan jam ngaret.” Mereka tertawa dan temanku Sashika menanggapi, “Tenang aja. Ga Cuma orang Indo aja yang sering ngaret. Kita yang terdiri dari orang Aussie, Irak, Afganistan, Sri Lanka dan India juga sering ngaret.”


Kemudian kami segera berangkat menuju Homebush Bicentennial Park. Di sana, aku terbelalak melihat jumlah makanan yang ada. Ini kali pertama setelah sekian lama aku melihat daging yang sebegitu banyaknya. Urgh, aku segera merasa mual melihat daging-daging dan roti-roti yang bertumpuk-tumpuk. Tunggu, tunggu… Ada yang aneh, di mana nasinya? Tentu saja tidak ada dan untunglah, ada persediaan buah-buahan dan sayur-sayuran yang mencukupi. Aku dan teman-teman perempuanku mempersiapkan salada dan teman-teman laki-laki sibuk membolak-balik daging di atas panggangan.


Mempersiapkan salada tidak membutuhkan waktu yang lama dan alhasil, kami kaum Hawa kebosanan dan mencoba membantu memanggang daging. Kamu Adam terlihat tidak suka wilayah mereka dijamah dan menganjurkan kami untuk memanggang sayur-sayuran seperti jamur, paprika, tomat dan sosis sayur. Selagi memanggang, aku memperhatikan segerombolan lelaki separuh baya yang juga sedang sibuk memanggang di kabin sebelahku. Telingaku tergelitik ketika aku mendengar bahasa yang sangat tidak asing bagiku – mereka berbahasa Indonesia!


Dalam sekejap, aku menghampiri dan menyapa mereka, “Dari Indonesia, yah?”. Mereka sedikit terkejut tetapi setelah berkenalan, kami bercakap-cakap seperti sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain. Teman-temanku hanya terlihat kebingungan, karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Selidik punya selidik, segerombolan orang ini adalah anggota PMI, Perhimpunan Masyarakat Indonesia, dan yayasan Al-Ikhlas. Mereka mengadakan acara piknik anggota sebagai bentuk silaturrahmi mereka. Bapak-bapak tersebut sangat senang berkenalan denganku dan menggiringku ke tempat anggota Ibu-Ibu yang sedang duduk dan menunggu daging-daging masak.


Aku berkenalan dengan Ibu-Ibu tersebut dan dalam hitungan detik, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari mereka. Mereka segera menawarkan makanan mereka yang tidak kalah banyaknya dari jumlah makanan yang dimasak oleh teman-temanku. Salah satu dari mereka meraih sebuah piring besar dan memenuhinya dengan buah-buahan. Mereka juga menawarkan daging panggang, tetapi aku menolak dengan halus karena stok daging yang dimiliki temanku sudah mencukupi. Setelah berbincang-bincang dengan mereka, aku kembali ke rombonganku dengan membawa sepiring buah-buahan.


Daging hampir matang, mulut siap untuk melahap. Sebenarnya aku mencoba untuk menahan godaan agar tidak makan banyak, dan hanya mengambil buah-buahan dan sayur-sayuran. Tetapi yang namanya acara piknik bakar-bakaran, teman-temanku tidak akan puas kalau mereka tidak membuatku bakan banyak. Akhirnya, diet Miss Jogja hancur berkeping-keping.




Perutku kenyang dan aku menghampiri gerombolan orang Indonesia untuk menanyakan di mana aku bisa shalat Dzuhur. Mereka dengan senang mengajakku untuk shalat berjamaah dan meminjamiku mukena. Dengan menggelar tikar di atas rerumputan, kami shalat Dzuhur berjamaah. Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan, bisa bertemu dengan kaum Muslim Indonesia di Australia dan beribadah bersama mereka. Setelah shalat Dzuhur, aku ditawari makan (blergh) oleh Ibu-Ibu dan aku tidak dapat menolak T.T. Akhirnya, aku mencicipi rujak, pempek dan es cendol hasil buatan Ibu-Ibu tersebut. Aku berbincang-bincang macam-macam, dan ingat bahwa aku aku sudah meninggalkan gerombolanku selama setengah jam! Karena merasa tidak enak, aku berpamitan dan kembali ke rombonganku. Ternyata, bencana menanti – aku harus makan cake coklat karena hari itu adalah ulang tahun temanku. Dengan perut yang sudah kenyang dan mual, aku memaksakan diri untuk memakan cake coklat tersebut. Urgh, benar-benar hari yang penuh penyiksaan.


Akhirnya, aku pulang dengan perut yang teramat kenyang dan berdoa semoga di hari-hari mendatang, aku tidak harus makan sebanyak ini T.T.

Friday, 23 January 2009

++ Sebelum, Ketika dan Sesudah Perpisahan ++

Ini blog pertama yang aku tulis sejak aku tiba di Australia. Satu perbedaan yang mencolok: internetnya, cepat sekali!!!


21 Januari


Sehari sebelum hari H. Dum dum dum. Aku terbangun pada jam 6.15 ketika telepon genggamku berdering – panggilan yang telah aku nanti-nanti sejak kemarin malam. Ima menelponku dan kami menghabiskan 1.5 jam untuk saling mengobrol tentang rupa-rupa kehidupan kami (sebagian besar tentang aku sih hehehe). Sembari berbincang-bincang dengan Ima, aku memasak brownies kukus yang akan aku bawa ke Inculs dengan tutor-tutor sebagai kelinci percobaannya mwahahaha. Pembicaraan selesai, brownies kukusku pun matang, walaupun terlihat sangat, sangat mencurigakan. Yah tidak apalah, yang penting kan niatnya =).


Aku berangkat dengan membawa sekotak brownies kukus hasil masakan sendiri. Di Inculs masih sepi, hanya aku sendiri. Karena malas menunggu kelinci-kelinci percobaanku datang, aku memutuskan untuk mengirim SMS, meminta mereka untuk datang. Korban pertama adalah Taufik; dia mencoba dua brownies: rasa kacang dan rasa coklat biasa. Dia menunjukkan wajah yang aneh. Aku tanya pendapatnya. Mungkin dia hanya menjaga perasaan saja, karena dia bilang rasanya lumayan enak, walaupun penampilan dan kelembutannya masih dipertanyakan. Dia lebih suka brownies rasa kacang dan meminta ijin untuk membuat brownies rasa polos ke tempat sampah T.T… ya sudah, aku relakan saja. Lebih baik begitu daripada meracuni anak orang.


Tutor-tutor yang lain mulai berdatangan; Isa, Faizal, Hamzah dan Fickry semua aku paksa untuk mencicipi brownies kukusku. Kelihatannya mereka punya pendapat yang hampir sama: browniesku lebih tepat disebut brownies jenang daripada brownies kukus T.T. Mbak Sinta dan Deassy juga ikut mencicipi dan Deassy kelihatan sangat, sangat tersiksa untuk menghabiskan browniesku. Setiap 10 detik dia menyebut kata ‘jenang’ untuk menggambarkan ‘kesan’ dia terhadap makhluk coklat ajaib ciptaanku.


Entah kenapa, setutupnya Inculs, brownies jenangku habis. Walaupun mereka makan brownies tersebut karena faktor kelaparan saja, bukan karena rasanya, aku tetap merasa senang...


Sepulangnya dari Inculs, aku, Isa dan Fickry nongkrong di Rumah Coklat untuk merampok bandwidth mereka. Tetapi setibanya di sana, aku menghadapi masalah yang sangat besar. Sebagian minuman yang Rumah Coklat sajikan adalah minuman yang mengandung coklat dan hari itu, aku sudah terlalu banyak makan brownies yang notabenenya coklat juga. Akhirnya, aku memesan kentang goreng saja. Dua piring…


Aku nongkrong di Rumah Coklat hingga jam 8 malam dan kemudian di jemput Cita tercinta, untuk mengunjungi radio UNISI untuk bertemu dengan seseorang. Setelah itu, kami berkeliling kota Yogyakarta dan bernostalgia sedikit. Sebelum pulang ke rumah, Cita dan aku memenuhi janji yang sudah kami ikrarkan beberapa bulan lalu: sebelum aku meninggalkan Yogyakarta, kami berdua harus makan durian di pinggir jalan. Yah, malam itu kami nongkrong di pinggir jalan sembari menikmati durian yang rasanya sangat manis. Semanis pengalaman yang telah aku lalui di Yogyakarta selama satu tahun terakhir ini =)


22 Januari


Aku bangun pagi untuk merampungkan semua kegiatan dan urusan yang harus diselesaikan sebelum aku berangkat. Pertama-tama, aku pergi ke Kayonna Studio untuk mengambil foto Janice dan kemudian langsung berangkat ke Gedung Pusat untuk mendapatkan Surat Pembebasan Fiskal. Setelah itu, aku mengunjungi Inculs tercinta untuk bertemu dengan siapa saja yang ada dan juga berpamitan kepada Bapak-Bapak penjaga Inculs. Tentunya, aku menyempatkan untuk memainkan piano, walaupun lagu yang kumainkan tidak pernah berubah. Aku meninggalkan Inculs (T.T) sekitar jam 12 karena aku mau makan siang dulu, di Kantin Fakultas Ekonomi. Itu kali pertama (dan semoga saja bukan kali terakhir) aku makan di sana. Ternyata makanannya lumayan enak... aku berbohong, karena sebenarnya makanan yang disajikan di kantin Fakultas Ekonomi sangat enak. Walaupun suasana di sana terkesan dingin, makan siang di sana sangat berkesan.


Setelah makan siang, aku segeramenuju Gedong Kuning, rumah Om dan Tanteku untuk berpamitan (semoga saja hanya pamit sementara saja). Setelah itu, aku pulang ke rumah dan mengangkat kardus-kardus berisi barang-barang yang tidak bisa aku bawa ke Australia ke rumah Cita. Siang itu sangat panas dan aku sebenarnya sudah sangat kecapaian karena kurang tidur dan terlalu banyak kegiatan.


Pada jam 3, aku dan kakakku tiba di bandara dan kami segera check-in. Tidak ada masalah waktu itu, tetapi pundakku sangat pegal dan linu karena harus membawa banyak barang. Setelah selesai check-in, kami menunggu di luar agar bisa bertemu dengan beberapa teman yang mengantarkan kami pergi. Orang pertama yang datang adalah Tika, tidak seperti biasanya (hehe). Kemudian, Isa, Hamzah, Cita dan Yulia menyusul. Sembari menunggu waktu boarding pesawat Garuda, kami mengobrol T.T. Jam 3.30 dan telepon genggam Tika berdering – Deassy kelihatannya akan datang terlambat, karena dia masih ada di Ambarukmo Plaza. Tapi syukurnlah, dia masih bisa datang sebelum aku pergi dan menyempatkan diri untuk mengambil foto (hahahaha). Jarum jam menunjukkan pukul 4.00 dan aku harus segera masuk ke dalam untuk boarding. Setelah berpamitan dengan semua teman yang mengantarkan aku, aku masuh ke dalam. Tetapi tunggu, telepon genggamku berdering dan Osy ternyata baru sampai di bandara dan ingin bertemu denganku. Seperti adegan di film Ada Apa Dengan Cinta, aku segera berlari keluar dan begitu melihat Osy di luar, aku segera memeluknya. Walaupun hanya sebentar, setidaknya aku merasa sangat lega Osy bisa datang mengantarkanku T.T.


Aku dan kakakku memasuki pesawat dan melambaikan tangan ke kota Yogyakarta tercinta, yang telah menjadi rumahku selama satu tahun dan akan selalu memiliki tempat yang khusus di hatiku.


Sekitar jam 5.30, aku tiba di Jakarta. Hal pertama yang aku lakukan: mengirim SMS ke teman-teman, agar sisa pulsa dan SMS gratisku bisa aku habiskan. Kakakku terlihat sangat sebal, karena yang aku lakukan hanya mengirim SMS. Sekitar jam 6, kami mengurus Pembebasan Fiskal, dengan berbekal surat dari UGM, fotokopi paspor dan kartu mahasiswa UTS, kami mengajukan Pembebasan Fiskal. Kami sangat terkejut ketika staf di pos Pembebasan Fiskal menolak pengajuan kami karena kami sudah tinggal di Indonesia selama lebih dari 183 hari. Walaupun kami mahasiswa dari institusi pendidikan asing, kami diwajibkan membayar 2,5 juta Rupiah per orang. Aku dan kakakku sangat syok, 2,5 juta Rupiah adalah uang yang sangat banyak – kalau buat makan di angkringan, bisa untuk berapa bulan??? Kakakku mencoba berdebat, tetapi tetap saja stafnya menjawab dengan ketus bahwa hukum adalah hukum dan kami diwajibkan membayar fiskal.


Dengan lemas kami menuju pos Pembayaran Fiskal. Staf di sana terlihat lebih ramah dan aku dengan wajah sedih mencurahkan keluh kesahku kepada staff tersebut. Setelah berkeluh kesah panjang lebar, kelihatannya aku berhasil mendapatkan simpati darinya. Dia menganjurkan agar aku dan kakakku mencoba peruntungan kami di pos Pembebasan Fiskal lainnya, semoga saja kami bisa lolos. Aku segera meluncur ke pos Pembebesan Fiskal tersebut, walaupun kakakku sudah malas tidak karuan dan memilih untuk membayar fiskal dengan harapan UTS akan menggantikan uang tersebut. Tetapi aku tidak mau mengambil resiko dan bagiku, uang senilai 2.5 juta patut diperjuangkan! Akhirnya kakakku hanya pasrah dan membiarkanku beraksi sendiri, mencoba mendapatkan bebas fiskal. Aku memasang wajah yang tidak berdosa dan seolah-olah tidak tahu apa-apa, dan memberikan surat-surat dari UGM dan paspor kami. Kelihatannya, staf tersebut salah membaca dan membiarkan kami pergi, dan mengatakan karena kami mahasiswa asing dan sudah menetap di luar negeri, otomatis kami mendapatkan Pembebasan Fiskal. Satu masalah terlampaui dan satu masalah yang tersisa adalah penjaga pos Pengecekan Fiskal. Rasa gelisah memenuhi dada tetapi aku mencoba untuk tenang.


Penjaga pos tersebut menyadari bahwa dalam kondisi kami, kami HARUS membayar fiskal. Walau aku merasa sangat tertekan, dengan wajah tenang dan pura-pura terkejut. Aku mengutip ucapan penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut; bahwa kami otomatis mendapatkan pembebasan fiskal. Mereka tidak percaya dan kami digiring kembali ke Pos Pembebasan Fiskal. Mereka saling berdebat dan akhirnya, penjaga pos Pembebasan Fiskal menyadari bahwa aku dan kakakku tiba di Australia pada tahun 2008, bukan 2009 yang sebelumnya dia kira. Berarti, kami telah menempati Indonesia selama lebih dari 183 hari dan semestinya, kami membayar pajak fiskal. Dengan memasang wajah yang terkejut dan memelas, aku mencoba untuk meraih simpati penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut. Aku menggunakan suara yang bergetar sembari mengatakan “Jadi… kami harus membayar pajak fiskal, Pak?” Akhirnya, dengan berbagai upaya, penjaga pos Pembebasan Fiskal tersebut meloloskan aku dan kakakku, dengan catatan hal ini akan terjadi satu kali saja dan di esok hari, aku harus membayar pajak fiskal jika terjerat dalam situasi yang sama. Setelah mengucapkan banyak terima kasih dan menebar senyum, aku dan kakakku segera memasuki ruang tunggu pesawat. Sebenarnya, aku setengah tidak percaya dengan keberuntunganku waktu itu, dan aku tidak jadi kehilangan 2.5 juta Rupiah tercinta.


Di ruang tunggu, aku meneruskan kegiatan SMSku karena sisa pulsaku masih 15 ribu dan sayang bilang terbuang. Alhasil, aku ber-SMS ria dengan beberapa teman untuk membunuh waktu. Entah apa yang terjadi, dengan mengirimkan SMS kepada teman-teman, aku jadi merasa sangat sedih. Waktu yang tersisa semakin sedikit, aku jadi terbawa suasana. Mungkin ini gejala orang yang akan meninggalkan tanah airnya. Panggilan boarding menyeru-nyeru dan aku memasuki pesawat, duduk manis dan lagu Leaving on A Jetplane berputar di kepalaku. Aku tidak akan mengatakan Selamat Tinggal Indonesia, tetapi Sampai Jumpa Indonesia, karena aku akan kembali. Pasti.


Setelah 2 jam perjalanan, aku dan kakakku tiba di bandara Changhi. Tidak ada pengalaman yang terlalu menarik, karena aku tidak sempat melakukan apa-apa, kecuali membaca buku dan bermain internet. Aku hanya menunggu satu jam dan berangkat menuju Australia.


23 Januari


Jujur saja, biasanya aku menikmati penerbangan dengan Singapore Airlines. Tetapi kali ini, aku merasa sangat tidak nyaman. Perjalanannya terasa lama, makanan yang disajikan tidak seenak dulu dan pilihan lagu, game dan film yang ditawarkan tidak sebanyak dulu. Entahlah, mungkin aku hanya merasa sangat lelah hari itu dan segala sesuatu terasa sangat negatif.


Aku dan kakakku sampai di Australia jam 11.00 dan melewati prosedur yang sangat aku benci: mengambil barang-barang (yang memerlukan waktu sangat lama) dan melaporkan barang-barang beresiko (seperti makanan dan obat-obatan). Aku yang sudah sangat lelah waktu itu, merasa sangat tertekan melihat antrian yang amat sangat panjang sekali (ya, aku sadar tata bahasa ini salah :p). Akhirnya, setelah 1.5 jam, kami keluar dari bandara dan bertemu dengan orang tua yang sudah menunggu di bandara sejak jam 7 (!!!).


Kami pulang dengan taksi dan setibanya di apartemen yang sudah lama tidak aku tempati, aku merasa suasananya sangat berbeda. Apartemen itu sudah memiliki penataan yang berbeda dan ada beberapa perabotan baru. Berbeda, tapi aku merasa nyaman.


Aku teringat, aku harus segera membeli kartu SIM yang baru untuk menghubungi teman-temanku di Indonesia dan di Australia bahwa aku sudah sampai tujuan dengan selamat. Mamaku menemaniku untuk membeli kartu SIM baru. Sembari berjalan-jalan, aku melihat ada beberapa toko dan rumah makan baru, yang tidak pernah ada di dalam ingatanku. Suasana Australia: sangat panas dan kering. Aku belum terbiasa dengan cuaca seperti ini :s


Aku membeli kartu SIM yang baru dan mengirim SMS ke teman-temanku, dan aku tertidur karena sangat lelah. Aku terbangun sekitar 7pm aku melihat ke luar dan langit masih terang benderang. Aku hampir lupa, sekarang musim panas di Australia. Karena udaranya sudah tidak sepanas siang ini, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai Manly. Udaranya sangat sejuk. Kicauan burung terdengar merdu. Langit merah terlihat indah ketika matahari terbenam. Bunyi ombak yang berdeburan meresap ke dalam hati. Tetapi tetap saja, aku belum bisa menikmati pemandangan seperti ini. Semuanya masih terkesan berbeda.


Begitulah hari pertamaku di Australia. Aku pulang ketika biru keabu-abuan mewarnai langit dan burung-burung berhenti berkicau.


Kesan-kesanku:

1) Hore, aku bisa minum air kran tanpa takut akan kena diare!

2) Banyak sekali orang bule berkeliaran di Australia (ya, iyalah) dan mereka sangat tinggi. Aku merasa sangat pendek dan kecil…

3) Di kamar mandi umum, kok cuma ada toilet paper? Di mana airnya?





24 Januari


Dum. Dum. Dum. Hari ini aku belanja untuk pertama kalinya di Australia. Aku menyiapkan diri untuk terkejut dengan harga-harga yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan harga-harga di Indonesia. Memang benar, aku terkejut, karena harganya lumayan murah dan hampir setara dengan di Indonesia, bahkan ada yang lebih murah.


Pertama, aku melihat sekotak strawberry dengan berat 250gram, tertera harga… 99 cent! Itu sama dengan 7500 Rupiah. Seingatku, di Indonesia, 100gram strawberry seharga 5000 Rupiah. Jadi bila dihitung-hitung, strawberry di Australia lebih murah daripada di Indonesia. Aku berada di atas awan dan segera mengambil 4 kotak. Di sebelah tumpukan strawberry, aku melihat sekotak buah plum 500gram dengan harga… 99cent?! Aku setengah tidak percaya, dan aku mencoba memastikan, dan memang buah plum sedang di obral. Di Indonesia, satu kilo buah plum sama dengan 36,000 rupiah! Dengan cepat aku mengambil sekotak buah plum. Kemudian aku melirik buah anggur hijau di depanku. Satu kilo seharga 2 dollar = 15,000 Rupiah, kalau tidak salah anggur yang sama dijual dengan harga 30, 000 Rupiah di Indonesia. Aku tersenyum, dan mengambil satu kilo anggur dan memasukkannya ke dalam keranjang. Aku dikejutkan lagi dengan sebungkus jeruk sunkist 3 kilo, yang harganya… 99cent! Aku membelalakkan mata. Murah sekali! Dengan bahagia, aku memasukkan satu bungkus jeruk sunkist ke keranjangku. Aku kemudian membeli sebungkus wortel satu kilo yang harganya 1 dollar dan susu segar seharga 1.25 dollar, kira-kira samalah harganya dengan di Indonesia. Tetapi kemudian aku dikecewakan dengan harga pisang, yang tidak lebih murah daripada harga di Indonesia. Tertera harga 2.99 dollar per kilo. Berhubung aku sangat menyukai pisang, aku tetap mengambil satu sisir pisang. Sisanya, aku membeli 3 kaleng tuna yang masing-masing berberat 185 gram dan harganya 89 cent.


Begitulah catatan hari ini. Aku belanja untuk pertama kalinya dan lumayan dikejutkan dengan harga-harga barang yang tidak membuat kantong terlalu menangis. Tapi aku baru sadar… sebagian besar barang yang aku beli adalah sayur dan buah-buahan hahahaha. Program makan sehat, mari kita mulai!



EDIT: Hanya ingin menambahkan sesuatu. Sore ini aku berjalan-jalan lagi di pantai Manly, yah hitung-hitung apartemenku hanya 2 menit jalan dari pantai. Setelah aku berjalan-jalan selama 40 menit, matahari terbenam dan aku melihat sesuatu yang sangat, sangat menyentuh hatiku, sehingga aku berhenti berjalan selama beberapa puluh detik. Di taman seberang pantai, aku melihat seseorang bersembahyang Maghrib di bawah pohon pinus. Aku tidak melihat wajahnya karena dia membelakangiku, yang aku lihat adalah seorang laki-laki berambut coklat dan berkulit putih. Dia tidak mengenakan sarung atau menggunakan sajadah, tetapi gantinya, dia melilitkan handuk panjang yang bergambarkan bendera Australia dan alas tanah seadanya. Tidak ada Adzan Maghrib, hanya kicauan burung-burung yang menandakan bahwa matahari sudah mulai terbenam dan semilir angin yang menyejukkan. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan merasuk di hati. Hal ini mengingatkanku akan perkataan temanku dulu bahwa "Di mana pun kamu berpijak di bumi ini, di situlah Tuhan berada dan tempat bagi semua kaum Muslim untuk menunaikan ibadah mereka". Terima kasih orang yang tak kukenal, hari ini kamu memberiku pelajaran yang sangat berarti...

Monday, 19 January 2009

++ Kumpulan Catatan-Catatan di Hari-Hari Akhir ++

Beberapa hari terakhir ini benar-benar merupakan paduan antara kebahagiaan dan kesenduan. Banyak hal-hal kecil yang terjadi; hal-hal yang memiliki makna yang sangat besar bagiku.

14 Januari

Aku terjebak dalam suatu situasi. Jika orang lain yang mengalaminya, mungkin mereka akan merasa sedih. Tetapi secara pribadi, aku merasa senang hal ini terjadi, karena aku bisa
mengenal seseorang secara lebih dalam dan momen-momen itu sangat berharga bagiku.

Adapula waktu ketika Tika mengantarkan aku pulang. Pertama-tama ban sepeda motor Tika bocor dan kami menghabiskan setengah jam menunggu ban itu ditambal. Dalam suasana hujan rintik-rintik, aku dan Tika mengobrol. Sepele terdengarnya, tetapi entah mengapa malam itu sangat mengesankan bagiku. Mungkin karena sebelumnya kami berdua belum pernah duduk dan berbicara panjang lebar mengenai hal-hal yang tidak penting (tetapi tetap hal-hal yang sangat menarik). Ketika ban sudah ditambal, kami pulang dan tiba-tiba hujan mengguyur deras. Aku kedinginan, kebasahan dan mataku tertusuk-tusuk air hujan, tetapi dalam momen itu aku jadi terbawa nostalgia. Nostalgia ketika beberapa bulan yang lalu, aku dan Tika juga berhujan-hujanan naik sepeda motor setelah berbelanja untuk sebuah acara di rumahku (buka puasa bersama).

Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang dengan manis menungguku. Dari seorang sahabat yang baru beberapa hari lalu aku mengucapkan selamat tinggal. Aku buka bingkisan itu dan berjuta rasa memenuhi dadaku. Aku bahagia, bahagia, bahagia... Aku mendapatkan sesuatu yang mengingatkanku akan masa-masa indah yang telah aku alami di sini. Jadi malam itu aku menjadi seseorang yang sentimentil, tersenyum-senyum sendiri. Kebahagiaan ini tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Tetapi di lain sisi, kebahagiaan ini juga membawa kesedihan yang menusuk hati. Mungkin karena aku baru menyadari betapa berharganya orang-orang di sekelilingku dan masa-masa yang telah aku lalui bersama mereka. Selalu, hal ini selalu terjadi ketika semuanya hampir terlambat. Jika saja aku menyadarinya lebih awal, aku pasti akan melakukan sesuatu yang lebih untuk mereka; sesuatu untuk menunjukkan betapa berharganya mereka bagiku. Semoga saja, aku bisa menggunakan rentang waktu yang ada sebaik mungkin. Bagiku dan juga bagi orang-orang yang pentingku bagiku.

15 Januari

Aku masih terbawa suasana bahagia dan terharu-biru dari malam sebelumnya. Seketika aku datang ke ruang Inculs, ruang penuh kenangan itu lagi sepi. Beberapa waktu kemudian aku bertemu dengan Tika lagi dan menyempatkan untuk mengobrol dari hati ke hati. Ternyata pemikiran dan perasaan kami sama. Aku tidak pernah menyangka itu.

Selama ruang Inculs tercinta buka, tidak ada momen yang terlalu signifikan sebenarnya. Aku hanya terduduk dan memikirkan hal-hal kecil. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku datang, tapi mungkin aku hanya kesepian aja dan selama ini, ruang Inculs dan orang-orang yang ada selalu berhasil menjadi pelipur laraku ketika aku kesepian. Kemudian Bondan datang, dia mau ujian bahasa Jepang. Yah kemudian ujung-ujungnya, kami berdua memutuskan untuk mampir ke hotel tempat ibunya menginap setelah ujian Bondan selesai dan pergi ke Mirota Batik untuk membelikan Adam cinderamata yang semoga saja bisa mengingatkan dia tentang kenangan yang dia dapatkan selama dia ada di Jogja.

Kami akhirnya ke Mirota batik, ditemani Dama dan Vando. Sebenarnya sih kami ke Mirota Batik tanpa tahu apa yang semestinya kami belikan untuk si Adam. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa hiasan rumah agar Adam bisa mulai menghias rumah barunya di Jakarta. Kami membeli hiasan berbentuk gamelan, dengan harapan dia mengingat waktu-waktu yang dia lalui di kelas gamelan bersama kami. Kami juga membeli patung kayu kecil yang berbetuk Bima - entah mengapa aku milih tokoh Bima, tetapi lebih baik daripada Dewi Shinta.

Kemudian sekitar jam 5 kami selesai belanja dan harus bersiap-siap untuk ketemu Adam jam 7. Saat itu, aku sempat membuat Bondan jengkel sehingga dia sampai marah-marah. Masalahnya : yang bakal ketemu Adam ada 4 orang dan pastinya, perlu 2 motor untuk pergi ke sana.

Sebenarnya di rumahku ada motor, tetapi motor tersebut semi-automatic dan aku hanya bisa mengendarai motor Vario, alias motornya Bondan. Aku menyarankan, lebih tepatnya setengah memaksa, untuk bertukar motor. Rencananya, Bondan mengantarkan aku pulang dengan motor Varionya dan dengan motor semi-automaticku, dia pulang ke kosnya. Aku sendiri akan mengendarai motor Vario Bondan untuk menjemput Vando. Membingungkan? Memang. Bondan setengah jengkel, karena dia mengira motor yang ada di rumahku itu motor Nugi yang sering terhenti di tengah jalan tanpa alasan. Jelas saja Bondan takut untuk mengendarai makhluk ajaib itu. Tapi sampai di rumahku, Bondan tidak jadi marah karena motor yang ada bukan motor Nugi dan tidak seburuk yang dia kira. Akhirnya, dia meninggalkan motornya di rumahku dan segera pulang ke kosnya.

Setelah siap-siap, aku meninggalkan rumah dengan berbekal: masker wajah dan SIM hasil pinjaman dari sepupuku. Puji Tuhan Yang Maha Esa (hahaha), aku tidak mengalami kecelakaan dan sampai di kos Vando dengan selamat, walaupun sempat tersesat sehingga terlambat. Kemudian aku, Bondan dan Vando menjemput Isa dan berangkat ke Dixie.

Di sana, kami akhirnya bertemu dengan Adam yang terlambat karena dia tertahan oleh teman-temannya yang mengajak dia makan malam. Jadi, dia datang di Dixie dengan perut yang kenyang. Tetapi, tetap saja dia memesan makanan utama dan hidangan penutup. Di Dixie ada beberapa makanan yang menarik, terutama sup kepiting yang Vando pesan, yang dihidangkan di dalam roti yang berbentuk kelapa. Di sana, diet seorang Miss Jogja pun hancur berkeping-keping karena dia memesan kebanyakan. Tidak apa-apalah, sekali ini saja.

Aku, Adam, Bondan, Vando dan Isa menghabiskan malam itu dengan mengobrol dan tentunya, makan. Senang rasanya bisa mengobrol panjang lebar dengan Adam setelah sekian lama tidak berkumpul bersama; tetapi aku juga berpikir: apa yang telah terjadi selama 6 bulan ini? Mengapa kita jarang berkumpul seperti ini? Hanya diri masing-masing yang tahu.
Setelah makan banyak hidangan, para lelaki terlihat sangat capai dan mengantuk. Dengan malasnya mereka tidur-tiduran bersama bantal dan guling yang memang sudah disediakan oleh Dixie. Setelah kira-kira 3 jam berada di Dixie, akhirnya kami memutuskan pulang. Aku kemudian memutuskan untuk membonceng salah satu dari lelaki yang ada - dan hanya Vando yang bersedia. Dia kelihatannya sudah pasrah dengan nasibnya. Tetapi kami sampai di kos Vando dengan selamat, tanpa ada cacat sedikitpun.

Rencana awal, setelah mengantarkan Isa ke kosnya, aku dan Bondan akan langsung menuju rumahku dan menukar kembali motor kami. Setelah mengisi bensin tentunya. Isa mengusulkan pom bensin yang berada di Jakal, dan pom bensin itulah yang aku dan Bondan tuju. Tapi berhubung aku buta arah, akhirnya aku terpisah dari Bondan dan melewati perempatan Ring Road Utara. Aku yang bingung menghubungi Bondan agar menjemput aku. Duh, tersesat dua kali dalam jangka waktu 4 jam bukanlah hal yang lucu. Sebenarnya dalam perjalanan dari kos Isa ke pom bensin, aku sempat terjerembab di semak-semak karena aku tidak hati-hati ketika memutar arah. Bondan tidak tahu, dan dia pasti akan sebal kalau tahu aku hampir mencelakai Vario sang kekasihnya.

Bondan datang, kami semestinya pulang. Tetapi aku masih merasa malas untuk pulang, karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling Jogja dan dengan senyumnya yang menyesatkan, Bondan mengajak aku untuk mengebut di jalur khusus kendaraan beroda empat. Dengan pengalaman menyetir motorku yang terbatas, tentu saja aku tertinggal jauh dan kehilangan jejaknya. Selama 5 menit aku mengendarai sepeda motor tanpa arah dan kelihatannya pengendara mobil merasa jengkel karena aku menginvasi wilayah mereka. Dengan wajah bersalah aku meminta maaf, walaupun aku tahu mereka tidak bakal mendengarnya. Aku berganti jalur ke jalur sepeda motor, di depan kantor polisi! Kelihatannya ada 2 polisi yang melihatku di jalur yang salah dan yang ada di pikiranku saat itu adalah 'ngebut', karena aku tidak ingin tertangkap dan ditilang. Jadi malam itu aku melanggar tiga peraturan lalu lintas: mengendarai motor tanpa SIM, melanggar lampu merah dan berada di jalur yang salah.
Ternyata waktu itu aku bukannya kehilangan jejak si Bondan, tetapi mendahului dia di lampu merah hahaha. Setelah bertemu Bondan lagi di sekitar JIH, kami melanjutkan aksi ngebut-ngebutan kami. Mungkin waktu itu, kecepatan sepeda motorku mencapai 90km/jam. Benar-benar sebuah rekor bagiku. Sekitar satu jam keliling Jogja tanpa arah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Benar-benar hari yang menyenangkan. Seandainya saja, aku dari dulu bisa melakukan hal-hal seperti ini...

Januari 16

Seperti biasa aku memulai hariku dengan mengunjungi ruang Inculs tercinta. Ketika aku datang, belum ada siapa-siapa. Untunglah sambungan internet berjalan dengan baik dan aku bisa berinternet ria di sana. Rencana hari ini adalah berkaraoke di Happy Puppy bersama tutor-tutor Inculs dan beberapa mahasiswa Monash. Karaokenya sangat menyenangkan, walaupun yang ada di sana tidak sebanyak biasanya (Faizal, Bondan, Vando, Dama, di mana kalian?!). Kami memesan lagu-lagu dari jaman kami masih naif, lugu dan tidak berdosa (memangnya pernah? Apalagi Bono) seperti Bukan Pujangga-nya Base Jam dan tentunya, lagu kebangsaan Taufik yaitu Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Beberapa lagu yang dinyanyikan di Happy Puppy membuatku terbawa suasana yang sendu, seperti lagu Yogyakarta yang dibawakan oleh Katon Bagaskara. Aku yang akhir-akhir ini sering merasa sentimentil jadi berpikir, apa yang akan aku rasakan satu, dua tahun mendatang jika aku mendengar lagu ini kembali? Ah entahlah, lebih baik aku menikmati masa-masa yang ada.

Setelah sesi karaoke berakhir, tentu saja ada satu hal yang wajib dilakukan: sesi foto. Aku heran, kenapa ya semuanya terasa antusias :p? Kemudian aku diantar pulang oleh Fickry dengan sepeda motornya. Di tengah jalan, kami mengalami kecelakaan kecil. Sepeda motor yang melaju di depan kami tiba-tiba berhenti sehingga Fickry tidak bisa menghentikan sepeda motornya tepat waktu. Alhasil, terjadi tabrakan dan kami berdua jatuh ke tepi jalan. Tidak ada yang terluka, hanya saja si Fickry terlihat sangat syok dan dia terduduk di pinggir jalan selama beberapa menit untuk menenangkan diri. Dia mengecek sepeda motornya, ada beberapa goresan di bagian depan :(. Setelah beberapa saat, kami meneruskan perjalanan kami yang tertunda. Sebenarnya, entah kenapa, aku mengetahui kecelakaan kecil ini akan terjadi beberapa detik sebelumnya. Jadi dalam rentang waktu yang singkat itu, aku berpikir: 'Sebentar lagi dua sepeda motor ini akan saling bertabrakan. Aku akan jatuh dan aku sedang tidak memakai jaket. Pasti akan luka-luka. Bagian tubuh yang mana yang akan aku korbankan: bahuku atau telapak tanganku'. Aku memilih untuk mendarat/jatuh di atas telapak tanganku. Ajaibnya, walau aku tersungkur dan telapak tanganku bergesekan dengan aspal, aku tidak mendapatkan goresan apa-apa. Aneh memang pemikiranku waktu itu haha.

Begitulah catatan hari ini, aku mengalami kecelakaan lalu lintas yang pertama. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ditulis hahaha. Walaupun aku mungkin tidak akan berkata demikian seumpama aku mendapatkan luka yang parah.

January 17

Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi hari itu. Seingatku, aku bersama teman-teman tercinta mengantarkan Adam ke bandara, dia akan pergi ke Jakarta. Sebenarnya, waktu itu aku merasa sebal karena aku janji akan datang ke bandara jam 4, tetapi berhubung Indonesia menggunakan sistem jam karet, aku baru sampai jam 4.30. Tetapi setibanya di bandara, aku merasa lega karena Adam belum pergi. Selidik punya selidik, ternyata keberangkatan pesawatnya ditunda 1 jam. Jadi acara kebut-kebutan di jalan itu sia-sia haha.

Setelah berbincang-bincang dengan Adam dan beberapa teman lainnya, tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Adam. Saat itu aku merasa aneh, satu persatu teman-temanku pergi meninggalkan Indonesia. Aku merasa, waktuku semakin dekat. Tetapi aku mencoba berlari dari kenyataan itu dan selalu memberitahu diri bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.

Sepulangnya dari bandara, teman-teman berencana untuk menginap untuk di Kaliurang. Sebelum ke sana, aku mampir dulu ke rumah Tika karena dia perlu pamit ke orangtuanya. Mas Kiki dan Mbak Sinta juga ikut, karena mereka mau mengisi buku kenangan untuk Bondan yang sebentar lagi juga pergi. Rencanya, kami berangkat ke Kaliurang jam 7, tetapi tentu saja jam karet selalu ada. Alasannya, Tika harus mengantarkan Jack pulang ke kostnya, jadi aku harus menunggu dia dulu. Kedua, Bapak Tika ternyata suka berbicara kesana-kemari dengan tamu-tamu yang mengunjungi rumah beliau. Alhasil, Mas Kiki dan Mbak Tika tertahan dan tidak bisa mengisi buku kenangan Bondan dengan cepat.

Aku dan Tika berangkat sekitar jam 9 dan sampai di Kaliurang jam 9.45 . Tapi di sana, kami baru sadar: villa yang disewa itu villa yang pernah digunakan untuk pesta perpisahan Dama dan 1) Tika tidak pernah ke sana; 2) Aku buta arah sehingga tidak tahu villanya di mana. Kami berdua akhirnya tersesat. Kami mencoba nge-SMS Mita dan Bondan, tetapi tidak ada balasan. Kami memutuskan untuk menunggu selama 1 jam dan kami menghabiskan malam minggu kami berdua di Kaliurang sambil makan wedang ronde. Benar-benar malam Minggu yang sendu T.T
Jam 11an kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena malam sudah sangat dingin dan kami berdua sangat mengantuk. Dalam perjalanan pulang, aku hampir tertidur beberapa kali. Tika harus memanggil-manggil namaku selama perjalanan karena aku hampir jatuh dari sepeda motor karena terbuai alam tidur. Tika memutuskan untuk mampir ke warnet biar aku bisa tidur di sana selama satu jam agar aku tidak terlalu mengantuk selama perjalanan pulang. Yah, selama Tika bermain internet, aku terlelap di warnet selama satu jam. Setelah tidur, aku tidak terlalu mengantuk dan 'aman' untuk dibonceng Tika pulang . Benar-benar hari yang aneh.

Januari 18

Setelah Adam di hari sebelumnya, hari ini aku mengucapkan selamat tinggal kepada housemate-ku, Stephanie. Tidak terasa aku sudah tinggal bersama dia selama satu tahun, melewati masa-masa yang sedih dan bahagia bersama. Pada awalnya, aku berpikir bahwa aku tidak akan merasa sedih karena aku tidak ikut mengantarkan dia ke bandara. Tetapi entah kenapa, ketika Stephanie memelukku [beberapa kali] dan mengucapkan selamat tinggal, aku merasa sangat sedih. Ketika dia meninggalkan rumah dengan taksi, aku menitikkan air mata. Rumah yang aku tinggali serasa kosong. Stephanie telah pergi. Nugi berada di Bandung. Aku sendiri. Mungkin yang aku perlukan sekarang adalah lagu Melayu yang mendayu-dayu hahahaha.

Tapi untunglah hari ini aku ada kegiatan sehingga aku tidak merasa terlalu tertekan. Tika dan aku berencana membuat beberapa kejutan untuk si Bondan. Berhubung di rumahku ada beberapa bahan makanan yang tidak pernah terpakai, akhirnya kami memutuskan untuk membuat brownies dan pudding buat Bondan. Dengan berbekal pengetahuan yang minim dan resep dari majalah Femina, kami memulai eksperimen memasak brownies dan pudding. Sebenarnya memasak brownies tidak terlalu sulit, tinggal memasukkan bahan ini dan itu. Kami hanya berdoa brownies kukus itu tidak menjadi 'roti bantat' karena kata Tika, sebagian besar usaha dia dan mamanya membuat kue-kue yang berbau kukus, akan menjadi 'roti bantat'. Untunglah hasilnya sukses (hehehe lagi promosi nih) dan layak disajikan. Setelah dua jam, memasak brownies dan pudding, dan mencuci piring yang kotor, kami berangkat ke Saphir Hotel untuk mengantarkan brownies dan pudding tersebut.

Sesampainya di Saphir (sekitar jam 8.30), Bondan dan kawan-kawan tidak ada di tempat. Akhirnya Tika dan aku menunngu beberapa saat sampai mereka datang. Mereka sampai di hotel jam 9.00, dan Bondan terkejut sekali melihat kami datang ala Room Service, mengantarkan pudding, dan brownies yang masih hangat. Katanya puddingnya enak, tetapi browniesnya lebih enak, sehingga ketika makan puddingnya lagi, rasa pudding tersebut menjadi kurang enak. Nah lho. Heru dan Vando datang beberapa saat kemudian. Vando senang sekali melihat pudding duduk manis di atas meja hotel. Tapi sayangnya, tidak ada piring dan sendok buat dia hahahaha.

Tika dan aku tidak bisa berlama-lama di Saphir Hotel, walaupun sebenarnya kami ingin bisa ngobrol-ngobrol dengan Bondan lebih lama karena kami sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Tidak seperti dulu ketika kami semua selalu pergi bersama-sama. Tapi setidaknya kejutan makanan kami membuat dia senang. Kapan-kapan masak brownies lagi, ah. Tapi siapa ya, yang mau jadi kelinci percobaan?

Januari 19

Seperti biasa, aku berada di ruang Inculs untuk meminta beberapa teman untuk mengisi buku kenangan untuk Bondan. Selama menunggu beberapa orang yang bisa dijadikan mangsa, aku nongkrong bersama beberapa tutor: Isa, Taufik, Anjas dan Hamzah. Di tengah-tengah pembicaraan kami, segerombolan orang Korea masuk ke ruang Inculs. Dengan memasang tampang ramah, kami menyapa mereka. Kami mengira mereka adalah mahasiswa Inculs yang baru, tetapi ternyata mereka sekelompok sukarelawan yang bekerja di Bantul dan mereka ingin jalan-jalan, dan UGM adalah tujuan wisata mereka. Ketika berbincang-bincang [dalam Bahasa Inggris], salah seorang perempuan Korea menyelutuk dan bicara, sambil memandang ke arah Isa, "You're handsome". Tutor-tutor yang lain, entah tertusuk hati mereka apa tidak, langsung saja menggoda Isa yang tersipu-sipu [me]malu[kan]. Kelihatannya perempuan Korea itu memang benar-benar kepincut hatinya dengan Isa, karena ketika gerombolan Korea tersebut hendak pergi, si perempuan Korea tersebut meminta alamat e-mail Isa cie cie cieeeee :p

Sekitar jam 2, aku, Hera, Isa dan Tika berangkat ke Pogung Baru untuk makan rujak bersama Jack, Bondan, Vando dan Dama. Sesampainya di tempat rujak es krim, kami melihat antrian yang panjang. Baru kali ini, aku melihat orang mengantri untuk beli rujak es krim. Sembari menunggu rujak es krim, kami semua mengobrol kesana-kemari. Jack memberiku sebuah kenang-kenangan yang sangat lucu. Aku senang sekali, tetapi juga merasa bersalah karena aku tidak sempat memberi dia apa-apa =(. Kami di sana hanya satu jam, karena Bondan sibuk dan Jack harus segera pergi ke bandara. Satu lagi ucapan perpisahan... sayang aku tidak bisa mengantarkan Jack ke bandara =(. Semoga saja waktu akan mempertemukan kami kembali.

Sepulangnya dari tempat rujak es krim, Hera mengantarkanku ke Bayonet karena aku perlu mencetak beberapa gambar/foto. Ternyata Bayonet kehabisan kertas, jadi tidak bisa mencetak gambar-gambar yang aku perlukan. Jadinya aku jalan-jalan tanpa tujuan di sepanjang jalan Jendral Sudirman dan Tjik Di Tiro untuk mencari warnet, dengan menahan sakit di kaki karena aku mengenakan sepatu hak tinggi, dan ujung-ujungnya aku mencetak gambar-gambar tersebut di warnet Blangkonet. Begitu selesai, aku baru sadar bahwa jam menunjukkan angka 5.20 dan acara perpisahan Bondan diadakan jam 7.00. Panik, aku berlari-lari dan segera menaiki bis no. 4 dan pulang ke rumah. Di perjalanan pulang ke rumah, aku menggunakan waktu yang ada untuk menggunting gambar yang sudah aku cetak. Aku merasa penumpang lain melihatku dengan pandangan yang aneh, tetapi aku cuek aja.

Sampai di rumah, aku segera menyusun buku kenangan, menempel gambar-gambar, mandi dan berdandan dalam jangka waktu 45 menit, karena aku mengira Tika akan menjemputku jam 6.45 agar bisa sampai di Pondok Cabe tepat waktu. Tapi yang namanya Tika, pasti ada jam karet. Kami baru berangkat jam 7.15 dan tiba di Podok Cabe jam 7.30.

Acara perpisahannya diadakan di lantai atas dan di sana, setelah memberi salam kepada Bondan, aku memberi isyarat kepada Heru dan Vando untuk turun ke bawah dan mengisi buku kenangan untuk si Bondan. Sesaat setelah itu Deassy dan Niken datang, mereka belum mengisi buku kenangan juga. Akhirnya ada antrian mengisi buku kenangan dan aku merasa cemas kalau Bondan turun ke bawah. Deassy mengisi buku kenangan itu lamaaa sekali, sehingga membuat Niken merasa sebal dan mencoret-coret halaman buku kenangan dengan curhat dia hahahaha.
Acara perpisahan berjalan dengan lancar. Banyak sekali yang datang. Aku dapat tempat duduk yang berada di ujung dan terpisah jauh dengan anak-anak UGM lainnya. Tetapi tidak apa-apa, aku juga duduk dengan orang-orang yang menyenangkan a.k.a Tika, Isa, Deassy dan Niken. Kami membicarakan hal-hal yang sangat tidak penting, seperti pertanyaan-pertanyaan jayus dari jaman dahulu kala, "Kenapa anak babi jalannya menunduk?", "Bagaimana cara memasukkan gajah ke kulkas?", "Kenapa katak jalannya melompat?" dan sebagainya. Pokoknya, meja kita yang paling ramai hahaha.

Acara perpisahan dan kumpul-kumpul tidak bisa dilepaskan dengan kenarsisan dan acara poto-poto. Kami, maksudku Deassy, sangat antusias dalam mengambil poto. Ketika semua sudah mati gaya, Deassy tetapi bersikeras untuk mengambil poto, potret diri khususnya :p.
Setelah hampir semua tamu pulang, aku menyerahkan bingkisan berisi buku kenangan kepada Bondan. Awalnya dia kelihatan bingung, sebaiknya bingkisan itu dibuka atau tidak. Aku memintanya untuk membuka bingkisan itu karena aku ingin tahu aku dia menyukai buku kenangan yang berisi kesan dan pesan orang-orang yang dia kenal selama setahun ini (termasuk dosen Bahasa Jepang yang sudah aku minta untuk mengisi, dengan mengorbankan segala harga diri hahahahaha). Ketika membuka buku itu, dia hanya terdiam, sampai aku salah tingkah. Jangan-jangan, dia tidak suka? Tetapi dia menghargai buku itu dan berterima kasih kepada semua yang sudah mengisi buku tersebut - yang masih ada di Pondok Cabe tentunya. Mata Heru kelihatan berkaca-kaca, kelihatannya dia akan menangis - aku tidak bisa membayangkan reaksi Heru esok hari ketika mengantarkan Bondan ke bandara...

Kami semua hendak pulang dan rasanya ada sesuatu yang sangat memberatkan hati. Sudah sekian kali aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman yang pergi... Mungkin sebentar lagi giliranku, entahlah, aku terlalu takut untuk memikirkan itu. Satu tahun telah berlalu dengan cepat, banyak hal-hal yang tidak dilakukan, banyak orang-orang yang terlewati, hal-hal kecil yang tak terlihat oleh mata tetapi mereka memiliki makna yang sangat penting. Aku merasa semua kasat mata, dan baru akan terlihat ketika berada jauh dari semua itu, dan yang ada hanya penyesalan. Entahlah... aku sebenarnya tidak merasa sedih, melankolis atau mendayu-dayu dengan acara perpisahan malam itu. Di acara itu aku senang, tertawa-tawa bersama orang-orang yang duduk di meja itu - tapi ada kesan pahit di akhir acara itu. Aku tak tahu kenapa...

Anyway, aku pulang dengan rasa yang takut karena aku menyadari: aku akan home alone! Heru, Tika, Niken dan Deassy semua menceritakan pengalaman mereka berada di rumahku malam-malam, dari yang mendengarkan suara tentara, drum dan pengalaman-pengalaman seram lainnya. Bagaimana aku tidak takut. Setelah memohon-mohon dan menitikkan air mata buaya, aku berhasil merayu Deassy untuk menginap di rumahku hahahaha. Akhirnya kami menghabiskan malam berdua sambil mengobrol sampai jam 3 pagi. benar-benar hari yang aneh :s

Monday, 12 January 2009

Bingung

Akhirnya aku ikut-ikutan nge-blog, walaupun engga tau aku mesti nulis apa :s.

Entahlah, akhir-akhir ini perasaanku campur-aduk. Kadang hepi, tetapi lebih sering merasa BT, stres dan sendu. Mungkin karena pengaruh ujian dan skripsi yang bikin kepalaku rasanya mau pecah.

Skripsi sih sudah selesai, dengan menggunakan sistem kebut dua malam dan dengan bantuan bergelas-gelas kafein. Enggak tahu deh hasilnya entar gimana, hanya bisa berdoa untuk yang terbaik. Entahlah, beberapa bulan terakhir ini aku ngerasa malas ngerjain hal-hal yang berhubungan dengan kuliah, gak ada motivasi. Padahal dulu aku semangaaaatttt banget buat belajar, entah kemana semangat itu hilang. Mungkin karena aku ingin menghabiskan waktu dengan teman-teman di Yogya sebaik-baiknya...

Sampai sekarang aja belum jelas masa depanku gimana. Akankah aku memperpanjang waktuku di Jogja? Masih seminggu yang lalu aku merasa gak bakalan siap untuk kembali ke Australia karena aku masih ingin melakukan beberapa hal di Jogja. Rasanya ada banyak yang telah aku sia-siakan dan aku lewatkan selama aku di Jogja. Tapi entahlah, cara berpikirku gampang berubah akhir-akhir ini. Beberapa hari yang lalu Mama nelpon, dan aku jadi kepingin balik ke Australia. Tetapi aku yakin, kalau aku kembali ke Australia, pasti aku akan pulang dengan hati yang sangat, sangat, sangat mengganjal.

*sigh*

Makanya aku bingung. Bingung untuk berpikir bagaimana. Bingung untuk merasa bagaimana. Bingung, apa yang kuinginkan? Ada sesuatu yang kuinginkan, tapi aku sadar akan konsekuensi jika aku gagal melakukannya. Aku bingung apa yang harus aku lakukan... Aku tinggal memilih antara penyesalan yang disebabkan karena melakukan sesuatu dan penyesalan yang disebabkan karena tidak melakukan sesuatu.

Bingung.

Dan pasti blog gak jelas ini membuat semua pembaca bingung dan garuk-garuk kepala.