Hari ini aku diundang oleh temanku ke acara BBQ (barbeque) alias bakar-bakaran. Reuni kecil-kecilan istilahnya, karena teman-temanku sangat ingin bertemu denganku setelah sekian lamanya. Sebenarnya aku merasa senang dapat bertemu dengan mereka lagi. Di lain sisi, aku merasa sangat malas karena tempat diadakannya BBQ, Homebush Bicentennial Park, ini sangatlah jauh – setidaknya untuk standar orang Yogyakarta.
Secara teori, jarak antara rumahku dan Homebush Bicentennial Park ‘hanya’ 32 km dan dengan mengendarai mobil, tujuan dapat dicapai dalam 30 menit. Tapi berhubung aku adalah insan yang tidak bisa mengendarai mobil, sarana transportasi umum menjadi satu-satunya jalan. Alhasil, rute yang diambil harus berputar-putar. Rutenya begini: aku berangkat dari rumahku ke pelabuhan Circular Quay dengan menaiki ferry. Kemudian dari pelabuhan Circular Quay, aku naik bis untuk menuju kampus UTS. Dari sana, aku akan dijemput oleh temanku, Malcolm, dan menuju rumah Andrew untuk mengurus bahan-bahan makanan dan setelah itu, kami berangkat menuju Homebush Bicentennial Park. Rumit? Memang.
Bakar-bakaran dimulai jam 11, jadi aku berangkat jam 9.15 agar dapat tiba di sana tepat waktu. Tetapi tetap saja, jam karet tetap berlaku dan kali ini bukan salahku! Keterlambatan ini disebabkan oleh pengunaan waktu yang tidak tepat-guna ketika berada di rumah Andrew sehingga urusan makanan tidak segera rampung. Dengan santai aku bercanda, “Aku kira Cuma orang Inda aja yang terbiasa dengan jam ngaret.” Mereka tertawa dan temanku Sashika menanggapi, “Tenang aja. Ga Cuma orang Indo aja yang sering ngaret. Kita yang terdiri dari orang Aussie, Irak, Afganistan, Sri Lanka dan India juga sering ngaret.”
Kemudian kami segera berangkat menuju Homebush Bicentennial Park. Di sana, aku terbelalak melihat jumlah makanan yang ada. Ini kali pertama setelah sekian lama aku melihat daging yang sebegitu banyaknya. Urgh, aku segera merasa mual melihat daging-daging dan roti-roti yang bertumpuk-tumpuk. Tunggu, tunggu… Ada yang aneh, di mana nasinya? Tentu saja tidak ada dan untunglah, ada persediaan buah-buahan dan sayur-sayuran yang mencukupi. Aku dan teman-teman perempuanku mempersiapkan salada dan teman-teman laki-laki sibuk membolak-balik daging di atas panggangan.

Mempersiapkan salada tidak membutuhkan waktu yang lama dan alhasil, kami kaum Hawa kebosanan dan mencoba membantu memanggang daging. Kamu Adam terlihat tidak suka wilayah mereka dijamah dan menganjurkan kami untuk memanggang sayur-sayuran seperti jamur, paprika, tomat dan sosis sayur. Selagi memanggang, aku memperhatikan segerombolan lelaki separuh baya yang juga sedang sibuk memanggang di kabin sebelahku. Telingaku tergelitik ketika aku mendengar bahasa yang sangat tidak asing bagiku – mereka berbahasa Indonesia!
Dalam sekejap, aku menghampiri dan menyapa mereka, “Dari Indonesia, yah?”. Mereka sedikit terkejut tetapi setelah berkenalan, kami bercakap-cakap seperti sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain. Teman-temanku hanya terlihat kebingungan, karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Selidik punya selidik, segerombolan orang ini adalah anggota PMI, Perhimpunan Masyarakat Indonesia, dan yayasan Al-Ikhlas. Mereka mengadakan acara piknik anggota sebagai bentuk silaturrahmi mereka. Bapak-bapak tersebut sangat senang berkenalan denganku dan menggiringku ke tempat anggota Ibu-Ibu yang sedang duduk dan menunggu daging-daging masak.
Aku berkenalan dengan Ibu-Ibu tersebut dan dalam hitungan detik, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari mereka. Mereka segera menawarkan makanan mereka yang tidak kalah banyaknya dari jumlah makanan yang dimasak oleh teman-temanku. Salah satu dari mereka meraih sebuah piring besar dan memenuhinya dengan buah-buahan. Mereka juga menawarkan daging panggang, tetapi aku menolak dengan halus karena stok daging yang dimiliki temanku sudah mencukupi. Setelah berbincang-bincang dengan mereka, aku kembali ke rombonganku dengan membawa sepiring buah-buahan.
Daging hampir matang, mulut siap untuk melahap. Sebenarnya aku mencoba untuk menahan godaan agar tidak makan banyak, dan hanya mengambil buah-buahan dan sayur-sayuran. Tetapi yang namanya acara piknik bakar-bakaran, teman-temanku tidak akan puas kalau mereka tidak membuatku bakan banyak. Akhirnya, diet Miss Jogja hancur berkeping-keping.
Perutku kenyang dan aku menghampiri gerombolan orang Indonesia untuk menanyakan di mana aku bisa shalat Dzuhur. Mereka dengan senang mengajakku untuk shalat berjamaah dan meminjamiku mukena. Dengan menggelar tikar di atas rerumputan, kami shalat Dzuhur berjamaah. Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan, bisa bertemu dengan kaum Muslim Indonesia di Australia dan beribadah bersama mereka. Setelah shalat Dzuhur, aku ditawari makan (blergh) oleh Ibu-Ibu dan aku tidak dapat menolak T.T. Akhirnya, aku mencicipi rujak, pempek dan es cendol hasil buatan Ibu-Ibu tersebut. Aku berbincang-bincang macam-macam, dan ingat bahwa aku aku sudah meninggalkan gerombolanku selama setengah jam! Karena merasa tidak enak, aku berpamitan dan kembali ke rombonganku. Ternyata, bencana menanti – aku harus makan cake coklat karena hari itu adalah ulang tahun temanku. Dengan perut yang sudah kenyang dan mual, aku memaksakan diri untuk memakan cake coklat tersebut. Urgh, benar-benar hari yang penuh penyiksaan.
Akhirnya, aku pulang dengan perut yang teramat kenyang dan berdoa semoga di hari-hari mendatang, aku tidak harus makan sebanyak ini T.T.
Bangga dgn km selalu ingat sholat dimana pun km brada =)
ReplyDelete